Tampilkan postingan dengan label ABK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABK. Tampilkan semua postingan

Apa Itu ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)?

Desember 04, 2017

Apakah anak anda termasuk anak yang sulit diatur? Sulit untuk duduk diam?, selalu berlari, berteriak dan melawan jika diberitahu?. “Keviiiiiin” cepat kerjakan PR kamu, “Keviiin” cepat mandi, Kevin bisa diam engga sih kamu!!!. Mungkin itulah keluhan yang anda rasakan setiap hari. Belum lagi ditambah keluhan perihal kenakalan dan prestasi yang kurang dari sekolah. Mungkin anda bertanya-tanya kenapa sih anak saya seperti itu, Kenapa anak saya selalu menjadi trouble maker, kenapa anak saya tidak seperti anak-anak lainnya yang penurut dan dapat duduk dengan tenang.

Semoga setelah membaca tulisan saya ini Anda dapat memahami kondisi dari putra-putri tercinta kita dan kita tidak lagi menyalahkan mereka dan diri sendiri atas kondisi yang ada.

ADHD atau "Attention Deficit Hyperactivity Disorder" adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan perilaku anak yang berlebihan dan tidak lazim yang ditandai dengan gangguan pemusatan perhatian dan gangguan konsentrasi(in attention), berbuat dan berbicara tanpa memikirkan akibat(impulsif) dan hiperaktif yang tidak sesuai dengan umurnya.

Penyebab utama ADHD sudah dapat dipastikan karena faktor genetik.

Ilmuwan menemukan bukti penyebab ADHD yang selama ini di duga pola asuh atau pola makan yang buruk ternyata adalah gangguan genetik. Peneliti telah mengamati peta gen lebih dari 1400 anak dan menemukan bahwa anak dengan ADHD memiliki potongan kecil DNA yang digandakan atau hilang.

Anita Thapar , seorang professor psikiatri anak dan remaja dari Cardiff University yang juga memimpin studi ini mengungkapkan bahwa penelitian ini telah berhasil menghilangkan mitos bahwa ADHD disebabkan oleh pola asuh atau pola makan yang buruk akibat terlalu banyak konsumsi gula.

“Hasil ini menarik, karena memberikan kita bukti hubungan genetik langsung dengan ADHD. Sekarang kita bisa mengatakan bahwa ADHD adalah penyakit genetik dan otak anak yang mengembangkan kondisi ini berbeda dengan otak anak –anak lainnya”. Ungkapnya, seperti dikutip Reuter, Kamis (30/9/2010).

Penelitian lain yang mendukung adalah adanya disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh dopamine sebagai neurotranmiter pencetus gerakan dan sebagai kontrol aktifitas diri.

Dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Brain Scanning didapatkan adanya kelemahan aktifitas otak bagian korteks prefrontal kanan bawah dan kaudatus kiri pada anak penderita ADHD.

Gambar ini merupakan hasil f-MRI perbandingan antara otak anak yang mengalami ganguan ADHD dengan anak yang normal.

Dengan demikian dapat disimpulkan kondisi yang terjadi pada anak penderita ADHD penyebab utamanya adalah di otak. Kita tidak dapat menyalahkan mereka atas kondisi yang terjadi dan juga bukan karena anda tidak dapat mendidik anak dengan baik (bad parenting).

Mungkin illustrasi dibawah ini dapat membantu kita untuk memahami tentang apa yang dirasakan oleh anak penderita ADHD didalam kesehariannya menjalankan aktifitas.

Bagaimana rasanya jika anda disuruh mengendarai sebuah mobil padahal Anda belum bisa mengemudi? atau Bagaimana rasanya jika anda harus berenang padahal tangan dan kaki Anda terikat?. Demikianlah yang dirasakan anak penderita ADHD jika disuruh melakukan aktifitas yang sebenarnya tidak bermasalah untuk anak yang normal namun terasa berat dan menyiksa untuk anak penderita ADHD.

Lalu bagaimana?. Hal terpenting adalah orang tua memahami dahulu kondisi anak. Setelah mengerti buatlah komitmen pada diri Anda bahwa anda bersedia menjadi pendamping/pembimbing/mentor untuk anak Anda. Kabar baik dari ADHD ini adalah walaupun merupakan penyakit genetik namun dengan pelatihan yang tepat, rutin dan konsisten, anak dengan ADHD ini dapat kembali menjalani aktifitas seperti layaknya anak yang normal bahkan lebih (lebih dalam arti positif).

Kenapa saya katakan lebih? Karena anak dengan ADHD tidak sedikit yang mempunyai tingkat kecerdasan diatas rata-rata, namun karena tidak dapat memusatkan perhatiannya maka kecerdasannya tidak dapat bekerja secara optimal.

Hal ini sesuai dengan penelitian teori perkembangan otak yaitu Neuroplastisitas, dimana otak dapat terus beradaptasi dan berkembang sesuai dengan rangsangan yang diberikan.

Jenis-jenis pelatihan yang dimaksud adalah; Edufeedback, Biofeedback dan Neurofeedback. Dengan metode yang tepat didukung oleh ketekunan dan kesabaran orang tua, niscaya hasil yang baik akan diperoleh.

Bapak/ibu yang baik, untuk mendiagnosa apakah anak Anda mengalami gangguan ADHD atau tidak bukanlah perihal yang mudah. Diperlukan tenaga ahli dan professional. Untuk mendiagnosanya pun diperlukan evaluasi yang cermat dan berkala. Untuk memastikan apakah anak Anda mengalami gangguan ADHD atau bukan silahkan membawanya ke dokter terutama dokter spesialis anak, dokter spesialis psikiatri anak atau Anda juga dapat membawanya ke tempat pelatihan kami (Free Diagnosa).

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri.

Bagaimana Teknologi Dapat Membantu ABK dalam Belajar?

November 29, 2017
Info [K-Moe]
Ilutstrasi Penggunaan SmartBoards sebagai Sarana Pembelajaran - Info [K-Moe]

Sepintas, teknologi di kelas pendidikan khusus terlihat seperti di kelas pendidikan reguler: komputer, laptop, SmartBoards, dan bahkan iPad. Bila Anda melihat lebih dekat, Anda akan menyadari betapa lebih banyak teknologi bantu ini yang seharusnya disediakan oleh pemerintah dalam pendidikan khusus.

Di negara maju, Fasilitas pembelajaran seperti teknologi pendukung baik teknologi rendah maupun berteknologi tinggi merupakan hal jamak dan harus tersedia di Kelas atau di Sekolah tersebut, karena dengan penggunaan perangkat berteknologi tersebut dapat membantu kegiatan siswa dalam belajar, memahami materi, melakukan praktek dan percobaan sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa

Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan ABK - Info [K-Moe]
Ilutstrasi Penggunaan Komputer sebagai Sarana Pembelajaran - Info [K-Moe]

Bagaimana Pemanfaatan Teknologi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus?

Beberapa alat memungkinkan anak dengan kebutuhan khusus untuk menggunakan komputer sama seperti orang lain. Siswa dengan keterampilan motorik halus rendah mungkin dibantu dengan keyboard dengan ukuran font besar yang terhubung ke USB komputer desktop biasa sehingga siswa bisa mengetik. Keyboard yang sama bisa diberi kode warna untuk membantu siswa dengan gangguan penglihatan. Jika seorang siswa memiliki keterampilan motorik rendah yang sangat rendah sampai pada titik dimana mereka tidak dapat menekan tombol pada keyboard, mereka mungkin mereka bisa menggunakan tombol yang tersedia dalam berbagai ukuran yang dapat ditekan untuk mengganti klik mouse atau tombol enter.

Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan ABK - Info [K-Moe]
Ilutstrasi Penggunaan Komputer dengan Modifikasi Keyboard sebagai Sarana Pembelajaran - Info [K-Moe]

Selain itu penggunaan (SmartBoard) papan tulis interaktif dengan layar sentuh/layar komputer interaktif raksasa, membuat pelajaran mudah diakses oleh siswa yang memerlukan sedikit bantuan. Jika mereka tidak bisa menjangkau papan tulis, tersedia juga aplikasi yang akan merefleksikan apa yang ada di layar ke iPad. Dengan cara ini, membuat siswa yang memang tidak bisa meninggalkan tempat duduk mereka (Tunadaksa) masih memiliki akses interaktif di ujung jari mereka melalui Ipad tersebut.

Bagi anak-anak yang tidak dapat berbicara terdapat perangkat berteknologi tinggi yang dapat mengeluarkan sebuah "suara" atau disebut Augmentative dan Perangkat Komunikasi Alternatif (AAC). Siswa hanya perlu menekan gambar di layar yang kemudian akan mengeluarkan suara yang dapat menjadi sarana komunikasi anak.

Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan ABK - Info [K-Moe]
Ilutstrasi Penggunaan iPad sebagai Sarana Pembelajaran - Info [K-Moe]

Bagaimana teknologi membuat perbedaan bagi siswa dengan kebutuhan khusus?

Mereka akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengerjakan keterampilan teknologinya. Meskipun tidak semua siswa dapat menggunakan perangkat berteknologi tinggi. Di tingkat sekolah dasar, siswa masih mempelajari dasar-dasar komputer, SmartBoard, atau iPad sehingga pada tingkat selanjutnya siswa sudah terbiasa menggunakan teknologi tersebut. Membiasakan anak menggunakan media berteknologi tinggi merupakan suatu tantangan bagi guru, begitu banyak hal positif yang lebih besar daripada hal negatif dengan memberi akses dan penggunaan perangkat teknologi kepada siswa. Teknologi dapat meningkatkan kemandirian mereka dan dapat mengajari mereka keterampilan teknologi dasar atau komunikasi yang akan mereka butuhkan selama sisa pendidikan mereka dan seterusnya.

Sekian Contoh Pemanfaatan Teknologi Dalam Pendidikan ABK. Bagaimana dengan Indonesia dengan Anggaran untuk pendidikan sebanyak 20% dari APBN? Silahkan nyatakan pendapat anda dalam kolom komentar

Bagaimana Belajar Membaca Pada Anak Dyslexia?

November 24, 2017
Bagaimana Belajar Membaca Pada Anak Dyslexia - Info [K-Moe]
Bagaimana Belajar Membaca Pada Anak Dyslexia - Info [K-Moe]

Sebelum masuk lebih dalam ke topik, pertama, kita harus tahu apa Dyslexia itu. Dyslexia adalah jenis ketidakmampuan belajar yang berhubungan dengan membaca. Anak-anak yang terkena disleksia kesulitan dalam membaca secara akurat dan lancar, selain itu menghadapi masalah dalam memahami bacaan, ejaan dan penulisan. Saat berhadapan dengan anak yang sedang menderita, Anda akan mendapatkan banyak pengetahuan tentang tantangan untuk mengatasi kesulitan anak dalam membaca dan melakukan inovasi cara-cara yang dapat membantu anak di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak disleksia mungkin mengalami masalah dalam menjawab pertanyaan tentang sesuatu yang telah mereka baca. Tapi ketika anda membacakannya untuk mereka, mereka mungkin dapat memahami serta tidak memiliki kesulitan sama sekali. Jadi, bagaimana melibatkan anak-anak disleksia untuk membaca?

Di antara banyak cara lainnya, pengajaran Multisensori adalah cara mengajar yang melibatkan lebih dari satu alat indera sekaligus. Bagi anak-anak dengan masalah membaca seperti disleksia, penggunaan penglihatan, pendengaran, gerakan dan sentuhan terbukti sangat efektif.

Penggunaan berbagai alat bantu sebagai media pembelajaran dapat membangkikan keinginan dan minat yang baru, membangkikan motiasi, memberikan rangsangan kegiatan belajar, bahkan dapat membawa pengaruh-pengaruh psikologis pada siswa. Media akan dapat menarik minat anak dan akhirnya berkonsentrasi untuk belajar memahami pelajaran.

Melalui pengajaran multisensori anak-anak dyslexia dapat belajar membaca dengan cara yang menyenangkan dan kreatif.

Berikut ini beberapa cara mengajarkan anak dengan kesulitan membaca atau sering disebut juga Dyslexia:

Menulis di Pasir atau Krim

Aktivitas dengan pasir atau krim cukur ini memungkinkan siswa untuk menggunakan indera penglihatan, sentuhan dan suara untuk menghubungkan huruf dengan suara mereka. Anak-anak memulainya dengan segenggam pasir di atas kertas atau sesendok krim cukur di atas meja. Lalu mereka menghamparkan pasir atau krim cukur dan menggunakan jari mereka untuk menulis huruf atau kata di dalamnya. Saat mereka menulis, siswa mengatakan suara yang dihasilkan setiap huruf. Mereka kemudian memadukan suara itu bersama-sama dan membaca keseluruhan kata dengan lantang.

Membangun Kata-kata

Membangun kata bisa dilakukan dengan bantuan alfabet tiles atau huruf magnetik. Kegiatan ini mencakup penggunaan alfabet tiles berkode warna dengan cara yang bervariasi untuk membantu anak-anak menghubungkan suara dengan huruf. Mereka juga dapat menggunakan huruf magnetik di mana huruf vokal dan huruf konsonan berwarna berbeda. Siswa mengucapkan suara setiap huruf sambil meletakkannya dan mereka membacakan kata ketika mereka selesai membangunnya.

Ilustrasi Alphabet Tiles dan Magnetic - Info [K-Moe]
Ilustrasi Alphabet Tiles dan Magnetic - Info [K-Moe]

Membaca, Membangun dan Menulis

Teknik mengajari kata-kata menggunakan sight words akan cocok sekali dengan tipe anak pembelajar yang mengandalkan ingatan visual. teknik ini dapat dilakukan dengan satu kelompok atau satu lawan satu. Siswa menyiapkan selembar kertas dengan tiga kotak yang digambar di atasnya dan diberi label 'Baca, Bangun, dan Tulis'. Mereka juga memiliki kartu huruf, huruf magnetik dan spidol. Siswa dan guru membaca kata-kata yang ada di kotak 'Baca'. Kemudian mereka membangun kata di kotak 'Build', menggunakan huruf-hurufnya. Pada akhirnya, mereka berlatih menuliskannya di kotak 'Tulis'.

30 Aplikasi Android untuk Anak Berkebutuhan Khusus

November 23, 2017
30 Aplikasi Android untuk Anak Berkebutuhan Khusus - Info [K-Moe]
30 Aplikasi Android untuk Anak Berkebutuhan Khusus - Info [K-Moe]

Teknologi dalam pendidikan

Penggunaan teknologi dalam pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan proses belajar siswa dan juga membantu guru dalam berkomunikasi dengan siswa dengan cara yang mudah. Teknologi pendidikan dapat digunakan di dalam kelas, atau bahkan bisa di luar kelas. Teknologi ini telah berhasil mengubah citra stereotip dari ruang kelas menjadi bentuk modern dan lebih menarik. Berkat ini, ruang kelas tidak lagi menjadi tempat yang membosankan dan belajar dapat menjadi hal yang benar-benar menyenangkan. Dengan penggunaan komputer dan program perangkat lunak, yang menyediakan materi pembelajaran, teknologi telah mengubah pendidikan menjadi lebih hebat.

Penggunaan teknologi dapat digunakan pula pada ABK, karena dengan memanfaatkan teknologi anak berkebutuhan khusus dapat lebih tertarik dan mudah memahami. Dengan memanfaatkan Teknologi, anak yang mengalami gangguan perkembangan yang sangat kompleks dengan gejala-gejala yang muncul baik itu berupa hambatan komunikasi, interaksi sosial dan bahasa akan lebih terbantu dalam memahami konsep materi yang diajarkan.

Perkembangan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk anak berkebutuhan khusus diantaranya Aplikasi-aplikasi yang terdapat pada Android. Dalam kesempatan kali ini, Info [K-Moe] memberikan daftar aplikasi android untuk ABK pada tabel di bawah ini:

30 Aplikasi Android untuk Anak Berkebutuhan Khusus

KategoriApps
Aplikasi Android untuk Autism
  • Let Me Talk
  • Speak Quietly
  • Autism
  • Talking Pictures
  • Birdhouse
  • Autism Solutions
  • Aiko and Ego Animation for Autism
  • myVoice Communicator
  • Social Skills for Autism
  • Sesame Street and Autism
  • Speech Assistant AAC
  • Autism Therapy with MITA
  • Aplikasi Android untuk Dyslexia
  • Google Text to Speech
  • Vocab Builder
  • Easy Text to Speech
  • Voice Dream Reader
  • Go Read
  • Eye Games, Dyslexia
  • Dyslexia Redefined
  • Spell 4 You
  • Talk- Text to Voice
  • Learning Ally Audio
  • OCR Instantly Pro
  • Gboard- The Google Keyboard
  • Aplikasi android untuk anak dengan hambatan visual
  • TapTapSee
  • CamFind- Visual Search Engine
  • BeSpecular- Help The Blind
  • NewsSpeak
  • Eye-D-for Visually Impaired
  • Syntha Blind Visually Impaired
  • Big Notes Lite
  • Zeta Keyboard
  • Big Launcher
  • Ray App for Visually Impaired
  • ScanLife Barcode & QR Reader
  • Magnify
  • MessagEase Keyboard
  • Semua aplikasi tersebut bisa diunduh pada android anda dan tersedia di Playstore. Semoga informasi ini bermanfaat

    Tips Mengajarkan Pendidikan Lingkungan Pada ABK

    November 22, 2017
    Tips Mengajarkan Pendidikan Lingkungan Pada ABK - Info [K-Moe]
    Tips Mengajarkan Pendidikan Lingkungan Pada ABK - Info [K-Moe]

    Pendidikan lingkungan sangatlah penting diajarkan pada Anak berkebutuhan khusus. Anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat diajarkan tentang lingkungan dengan cara-cara yang inovatif, yang dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan mereka, diajarkan apa yang harus dilakukan serta bagaimana manfaat dan dampaknya terhadap lingkungan. Seperti mengajarkan tentang isu-isu seperti kualitas air, konservasi air, pengelolaan limbah dan sebagainya, sehingga bisa menghasilkan kehidupan yang ramah lingkungan.

    Pendidikan lingkungan dapat diajarkan dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran di luar ruangan seperti di taman, kebun, dll. untuk meningkatkan pengetahuan siswa berkebutuhan khusus, dan mendorong mereka untuk mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan yang ramah lingkungan di rumah. Disana anda bisa membahas tentang polusi udara bebas, tanah dan air, dan bagaimana kualitas udara yang baik dan buruk serta berdampak pada satwa liar dan juga manusia. Ditaman Mereka dapat terlibat dalam penanaman dan perawatan tanaman yang mereka tanam sendiri, dan melalui berbagai kegiatan, mereka dapat diajari tentang habitat dan saling ketergantungan antara satwa liar dan manusia.

    Mengajak anak-anak pergi ke taman - Info [K-Moe]
    Mengajak anak-anak pergi ke taman - Info [K-Moe]

    Mengajar tentang kualitas udara, tanah dan air

    Air - Info [K-Moe]

    Sekali lagi, kunjungan lapangan bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran lingkungan sensorik. Anda bisa mendorong anak-anak untuk mendengarkan, menyentuh dan mencium. Mereka akan menikmati pengalaman menyentuh bumi yang hangat, dan sungai yang dingin, dan pengalaman suara alam di luar ruangan. Ini adalah pengalaman terapeutik untuk semua, guru dan termasuk siswa!

    Mengajar tentang siklus air dan konservasi air

    Konservasi air dapat diajarkan kepada anak-anak berkebutuhan khusus dengan menjelaskan bagaimana air merupakan sumber daya alam yang berharga. Cara paling sederhana untuk menghemat air adalah dengan tidak menyia-nyiakannya dan dengan memastikan bahwa keran air dimatikan setelah digunakan. Konsep pemanasan global dapat diperkenalkan dengan menjelaskan tentang naiknya permukaan air di laut, dan bagaimana dampaknya terhadapnya, (suhu yang lebih panas, angin ribut, banjir dll). Anda bisa mendiskusikan bagaimana toksin dilepaskan oleh berbagai produk yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, dibawa oleh sistem air dan yang berpotensi masuk ke air minum.

    Untuk membuat diskusi menyenangkan, dorong siswa Anda menggambar siklus air, buat poster tentang siklus hujan, dan ikut serta dalam permainan peran.

    Mengajar tentang kemasan dan daur ulang

    Anak berkebutuhan khusus perlu belajar membuat pilihan yang tepat saat mereka membeli sesuatu. Anda bisa mengajari mereka kode daur ulang dan simbol untuk memilih produk yang tepat. Daur ulang di rumah merupakan kegiatan penting lain yang bisa dipelajari anak-anak.

    Libatkan mereka dalam berkebun organik

    Air - Info [K-Moe]

    Untuk memastikan bahwa kebutuhan khusus memahami konsep baru dengan mudah, memecah kegiatan terkait menjadi langkah-langkah sederhana, yang dapat mereka ikuti dan jalankan. Membuat kegiatan sederhana dan menyenangkan, yang bisa mereka selesaikan, akan membuat mereka antusias untuk belajar lebih banyak tentang lingkungan.

    Anak-anak kebutuhan khusus pasti ingin menanam sayuran dan bunga penyerbuk yang ramah, dan merawat tanaman akan membawa mereka lebih dekat ke alam. Mereka bisa diajarkan metode berkebun organik, yang akan membuat mereka, menikmati sayuran yang telah mereka tanam sendiri.

    Kegiatan di luar ruangan semacam ini bisa menyegarkan anak-anak, dan memberi mereka rasa puas dan puas, saat mereka bisa melihat hasil kerja keras mereka.

    ecofriend

    Download Majalah SPIRIT edisi 2 ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

    November 03, 2017
    Majalah SPIRIT EDISI 2 ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) - Info [K-Moe]
    Info [K-Moe]

    Info [K-Moe] – Setelah sebelumnya merilis Majalah Spirit Edisi 1, sekarang ini Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan kembali Majalah SPIRIT edisi 2.

    Majalah tentang Pendidikan Khusus ini berisikan tentang bagaimana ABK mampu berprestasi dalam kemandirian serta percaya bahwa cita-cita dapat diraih walau dalam keterbatasan. Selain itu dipaparkan juga tentang program prioritas Direktorat Pembinaan PKLK terkait Afirmasi Pendidikan Menengah, Sekolah Aman Bencana dan Pendidikan Vokasional.

    Majalah SPIRIT edisi 2 ini pun dibuat dalam upaya pengembangan pendidikan untuk semua dimana tidak boleh ada diskriminasi antara pendidikan reguler dengan berkebutuhan khusus. Karena semua anak berhak memperoleh pendidikan yang merata dan berkualitas.

    Melalui majalah ini diharapkan spirit kebangkitan pendidikan khusus dapat menjadi awal pengembangan yang dapat berdampak pada kualitas pendidikan khusus sehingga anak dapat berprestasi, mandiri, dan berkembang

    UraianKeterangan
    JudulSpirit Edisi 2 (Anak Berkebutuhan Khusus)
    JenisBuku
    PenerbitDirektorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Kemdikbud
    PeriodeEdisi 2 Juli Agustus
    Tahun2017

    Download Buku

    Klik tombol download atau baca

    DownloadBaca Online

    Download Majalah SPIRIT edisi 1 ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

    November 01, 2017
    Majalah SPIRIT EDISI 1 ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) - Info [K-Moe]
    Info [K-Moe]

    Info [K-Moe] – Majalah merupakan suatu media yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dan juga sumber informasi. Majalah SPIRIT edisi 1 hadir untuk anak-anak berkebutuhan khusus di bawah naungan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

    Majalah ini mengulas paradigma pendidikan secara menyeluruh, mulai dari Ujian Nasional Siswa Luar Biasa, sekolah inklusi hingga prestasi siswa yang diukir meskipun dengan keterbatasan yang mereka miliki. Selain itu, terdapat pembahasan mengenai Festival dan Lomba Literasi PKLK 2017.

    Majalah SPIRIT edisi 1 ini pun dibuat dalam upaya pengembangan pendidikan untuk semua dimana tidak boleh ada diskriminasi antara pendidikan reguler dengan berkebutuhan khusus. Karena semua anak berhak memperoleh pendidikan yang merata dan berkualitas.

    Melalui majalah ini diharapkan spirit kebangkitan pendidikan khusus dapat menjadi awal pengembangan yang dapat berdampak pada kualitas pendidikan khusus sehingga anak dapat berprestasi, mandiri, dan berkembang

    UraianKeterangan
    JudulSpirit Edisi 1 (Anak Berkebutuhan Khusus)
    JenisBuku
    PenerbitDirektorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Kemdikbud
    TahunEdisi 1 Tahun 2017

    Download Buku

    Klik tombol download atau baca

    DownloadBaca Online

    Konsep Hambatan Emosi Dan Sosial (Anak Tunalaras)

    Oktober 17, 2017
    Konsep Hambatan Emosi Dan Sosial (Anak Tunalaras) - Info [K-Moe]
    Info [K-Moe]

    Konsep Hambatan Emosi Dan Social (Anak Tunalaras)

    Banyak istilah dalam memberikan label kepada anak tunalaras. Istilah-istilah tersebut digunakan tergantung pada sudut pandang keilmuan yang digeluti para ahli yang menelitinya. Misalnya, masyarakat pada umumnya menyebut anak sulit diatur, anak sukar, anak nakal. Begitu juga dalam literatur asing banyak istilah yang mengupas tentang pendidikan dan psikoterapi bagi anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial, seperti: serious emotional disturbance children, emotional conflict children, emotional disturbance children, emotional handicap children, emotional impairment children, behavior disorder children, behavior handicap children, behavior impairment children, severe behavior children, social and emotional children, dan sebaginya.

    Menurut Samuel A. Kirk bahwa anak tunalaras adalah mereka yang terganggu perkembangan emosi, menunjukkan adanya konflik dan tekanan batin, menunjukkan kecemasan, penderita neurotis atau bertingkahlaku psikotis. Dengan terganggunya aspek emosi dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain atau lingkungannya.

    Anak tunalaras adalah suatu tingkahlaku yang tidak sesuai dengan cultur permissive atau menurut norma keluarga, sekolah dan masyarakat luas. Sedangkan menurut Nelson (1981), seorang anak dikatakan tunalaras apabila tingkahlaku mereka menyimpang dari ukuran menurut norma, usia, jenis kelamin, dilakukan dengan frekwensi dan intensitas relatif tinggi, serta dalam waktu relatif lama.

    Menurut Maud A. Merril, seorang anak digolongkan tunalaras apabila tingkahlaku mereka ada kecenderungan-kecenderungan anti social yang memuncak dan menimbulkan gangguan-gangguan, sehingga yang berwajib terpaksa mengambil tindakan dengan jalan menangkap dan mengasingkannya.

    Sedangkan Ibrahim Husien, mejelaskan bahwa anak-anak menjadi delinquent apabila tingkahlakunya menyeret dia ke dalam daerah hukum. Dan menurut Romli Atmasasmita, delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan yeng dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku disuatu negara dan oleh masyarakat itu sendiri dirasakan dan ditafsirkan sebagai perbuatan tercela.

    Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra

    September 28, 2017
    Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra
    Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra

    Konsep Orientasi Mobilitas,interaksi Sosial dan Komunikasi (OMSK) Bagi Tunanetra

    Tunanetra merupakan individu yang mengalami kelainan pada indera visualnya sedemikian rupa sehingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-harinya dan mengalami keterbatasan dalam Orientasi Mobilitas ,interaksi Sosial dan Komunikasi (OMSK) terhadap dunia luar yang tidak dapat diperoleh secara utuh. Oleh karena itu membutuhkan pengembangan keterampilan OMSK yang mampu mengkompensasikan keterbatasan yang dimiliki.

    Keterkaitan OMSK dengan ketunanetraan

    Keterkaitan Ketunanetraan dengan perlunya pengembangan OMSK pada tunanetra adalah sebagai berikut:
    1. Keterbatasan dalam pindah tempat (Mobilitas)
    2. Merupakan akibat langsung dari ketunanetraan itu sendiri.Keanekaragaman informasi dan pengalaman akan diperoleh dengan lebih luas bila seseorang dapat berpergian dengan bebas dan mandiri. Untuk terciptanya interaksi dengan lingkungan fisik maupun sosial dibutuhkan adanya kemampuan berpindah-pindah tempat. Semakin mampu dan terampil anak tunanetra melakukan mobilitas semakin berkurang hambatan berinteraksi dengan lingkungan.
    3. Kehilangan kemampuan melihat
    4. Merupakan hilangnya kemampuan memperoleh informasi dari lingkungan karena penglihatan merupakan saluran utama bagi manusia untuk memperoleh informasi dari lingkunganya.Untuk itu anak tunanetra harus mengantungkan pada indra lain yang masih berfungsi seperti : pendengaran,perabaan, penciuman, pengecap serta pengalaman kenestetik merupakan keindraan yang cukup penting. Akan tetapi indar-inda ini sering tidak dapat mengamati, memahami dan menjangkau obyek diluar jangkauan fisiknya. Hal ini berdampak dalam memperolah pengalaman baru bagi tunatetra.
    5. Keterbatasan interaksi dengan lingkungan
    6. Ketunanetraan mengakibatkan keterpisahan individu dengan lingkungan fisik dan sosial pada batas-batas tertentu. Keterpisahan dengan lingkungan fisik maupun sosial mengakibatkan adanya kepasifan pada tunanetra. Hilangnya rangsangan visual berdampak pada aktifitas untuk mendekatkan diri dengan orang lain yang ada dilingkungannya tidak terjadi secara mudah bagi tunanetra hal ini lambat laun akan mengakibatkan hilangnya keinginan untuk berinteraksi dengan lingkunganya.Banyaknya aktifitas interaksi sosial yang tidak dapat dilakukan anak tunanetra mengakibatkan rasa frustasi. Disinilah pentingnya pengembangan kemampuan OMSK pada anak tunanetra agar dia dapat mengatasi hambatan dalam komunikasi dengan lingkungan.

    Dengan demikian, konsep pengembangan orientasi mobilitas, interaksi sosial dan komunikasi bagi tunanetra merupakan satu kemampuan, kesiapan dan mudahnya bergerak dari satu posisi/tempat ke satu posisi/tempat lain yang dikehendaki dengan baik, tepat, efektif, dan selamat. Sehingga dapat mengatasi hambatan dalam intereksi sosial dan komunikasi tunanetra dengan lingkunganya perlu dikembangkan.

    Prinsip Orientasi dan Mobilitas Bagi tunanetra

    Prinsip dasar orientasi dan mobilitas bagi tunanetra menurut Raharja dalam Sudarti (2015), yaitu kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan semua indera yang masih ada untuk menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda penting yang di sekitarnya baik secara temporal maupun spasial.

    Mengacu pada prinsip di atas, maka aspek pengetahuan yang diperlukan untuk mempermudah individu tunanetra mengembangkan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari dikelompokkan ke dalam 6 komponen (Hosni, 2013), yaitu:

    1) Landmark (ciri medan), 2) Clues (tanda-tanda), 3) Numbering system (sistem penomoran), 4) Measurement (pengukuran), 5) Compas Direction (arah mata angin), dan 6) Self Familiarization (memfamiliarkan diri)

    Teknik Orientasi dan Mobilitas Bagi tunanetra

    Hadikasma dalam Sudarti (2015), menyebutkan bahwa sifat orientasi dan mobilitas yang berpusat pada praktek. Kemudian pada teori orientasi dan mobilitas hanya sebagai penunjang terlaksananya praktek, maka teknik belajar yang harus diberikan pada tunanetra antara lain:
    1. Memberikan informasi yang jelas atau konkrit dan menghindari kata ganti petunjuk, seperti ini, itu, di sana dan seterusnya
    2. memberi bantuan jika diperlukan
    3. Memberi kesempatan beradaptasi terhadap perubahan cahaya
    Selain itu Kemendikbud (2014), teknik orientasi dan mobilitas yang diajarkan bagi tunanetra, yaitu:
    1. Teknik Pra Tongkat di Lingkungan Rumah dan Sekolah, b) Teknik Tongkat dalam Pembelajaran Orientasi dan Mobilitas.

    Prinsip Aktivitas Dalam Pembelajaran Orientasi Dan Mobilitas

    Dalam pembelajaran keterampilan Orientasi Dan Mobilitas bagi peserta didik tunanetra harus didasarkan pada kekongkritan dan aktivitasnya yang ditegaskan oleh Kemendikbud (2014), sebagai berikut.
    1. Prinsip Kekongkritan dalam pembelajaran orientasi dan mobilitas
    2. Pelaksanaan latihan pada tunanetra dikatagorikan kongkrit apabila materi latihan, tempat atau lokasi latihan, waktu suasana harus kongkrit. Untuk mengkongkritkan materi maka perlu dilengkapi dengan peraga pendukung yang bersifat kongkrit. Kongkrit bisa berarti bentuk aslinya atau modelnya. Penggunaan peraga model dilakukan bila penggunaan peraga asli tidak memungkinkan. Ketidakmungkinan penggunaan peraga asli bisa karena alasan etika, berbahaya atau membahayakan peserta didik, dan atau susah menemukan aslinya. Karena itu sejak dari rencana pembelajaran harus sudah dipikirkan bagaimana perencanaan latihan keterampilan orientasi dan mobilitas dapat dilaksanakan kongkrit.
    3. Aktivitas dalam pembelajaran orientasi dan mobilitas
    4. Aktivitas latihan pembelajaran orientasi mobilitas dilatihkan dengan cara praktek langsung serta ditunjang dengan media dan sarana prasarana yang mendukung.

    Strategi Layanan Terpadu Dalam Pembelajaran Orientasi Dan Mobilitas

    Mengingat pentingnya pembelajaran orientasi dan mobilitas dalam kehidupan tunanetra dan banyaknya waktu yang dibutuhkan, maka perlu menggunakan berbagai strategi layanan untuk pembelajaran (Kemendikbud, 2014), sebagai berikut.
    1. Pembelajaran terpadu, artinya sebagian materi pembelajaran OM masuk ke dalam mata pelajaran untuk dikembangkan.
    2. Pembelajaran tersendiri, artinya guru penanggung jawab keterampilan kekhususan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran secara langsung dan tersendiri, yang disesuaikan dengan umur perkembangan dan kebutuhannya.
    3. Pembelajaran prioritas, yaitu strategi ini dilaksanakan karena alasan tertentu yang ada pada tunanetra, misalnya karena peserta didik akan segera masuk di sekolah inklusi atau alasan kebutuhan yang mendesak, maka perlu diprioritaskan untuk dilakukan pembelajaran OM secara individual sampai kebutuhannya terpenuhi.

    Metode dalam Mengajarkan Keterampilan Orientasi Dan Mobilitas Pada Peserta Didik Tunanetra

    Kemendikbud (2014), mengemukakan bahwa pembelajaran keterampilan orientasi dan mobilitas pada peserta didik tunanetra menggunakan 3 (tiga) metode, yaitu.
    1. Pembelajaran dengan cara verbal
    2. Instruktur memberikan instruksi dengan verbal dan peserta didik melaksanakan instruksi verbal tersebut. Cara ini dapat berjalan apabila menghadapi tunanetra yang mempunyai kekayaan konsep yang cukup memadai. Bagaimana ia akan mengerti dengan apa yang dimaksud apabila tunanetra belum mempunyai konsep yang tepat tentang isi instruksi tersebut.
    3. Pembelalajaran dengan cara demonstrasi
    4. Guru memberikan contoh bagaimana teknik dan keterampilan itu dilaksanakan. Peserta didik tunanetra mengamati dengan meraba dari gerakan yang dicontohkan oleh instruktur. Setelah itu baru peserta didik mempraktekan dan meniru yang dicontohkan oleh instruktur.
    5. Pembelajaran dengan bantuan fisik
    6. Instruktur menyentuh langsung peserta didik tunanetra dan mencontohkan secara langsung kepada tunanetra. Kelemahan dari cara ini adalah adanya kontak langsung yang terlalu sering dengan peserta didik dan dapat berakibat tidak enak pada tunanetra, terutama yang telah dewasa. Instruktur dalam mengajarkan sesuatu teknik dalam mobilitas sering menggunakan ketiganya yaitu cara verbal, demonstrasi dan bantuan atau kontak fisik. Makin tiggi kemampuan tunanetra menerima pelajaran makin kurang penggunaan atau kontak fisik dalam proses belajarnya.

    Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar

    Juni 10, 2017
    Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar
    Ilustrasi Anak Berkesulitan Belajar

    Strategi Mangatasi Kesulitan Belajar

    Strategi bisa diartikan sebagai cara/langkah/perencanaan dalam melakukan sesuati. Strategi juga biasa dipahami sebagai "suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan" (Djamarah dan Zain, 2002). Strategi mengatasi kesulitan belajar pada siswa berarti suatu perencanaan yang mencakup garis besar haluan bertindak dalam mengatasi kesulitan belajar pada siswa dalam rangka mencapai sasaran tujuan belajar yang diinginkan. Dalam tulisan ini, strategi mengatasi kesulitan belajar pada siswa ini menjadi dua, yaitu strategi umum dan strategi khusus.

    Strategi umum

    Banyak strategi alernatif yang dapat diambil dalam mengatasi kesulitan belajar siswa. Muhibbin Syah (2004), mengungkapkan bahwa sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut.

    Pertama, menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

    Kedua, mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan. Bidang-bidang bermasalah dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri; kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua; kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik guru maupun orang tua.

    Ketiga, menyusun program perbaikan, khususnya progarm remedial teaching (pengajaran perbaikan). Dalam menyusun program perbaikan, sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut: tujuan pengajaran remedial; materi pengajaran remedial; metode pengajaran remedial; alokasi waktu pengajaran remedial; dan evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial. Setelah langkah-langkah tersebut selesai.

    keempat adalah melaksanakan program perbaikan.

    Sementara itu menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002), langkah yang perlu ditempuh dalam mengatasi kesulitan belajar pada siswa dapat dilakukan melalui enam tahap sebagai berikut.

    Pertama, pengumpulan data. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui: kunjungan rumah, studi kasus, case history, daftar pribadi, meneliti pekerjaan siswa, meneliti tugas kelompok dan melaksanakan tes IQ dan tes prestasi.

    Kedua, pengolahan data. Pengolahan data dapat dilakukan melalui langkah-langkah: identifikasi kasus, membanding antar kasus, membandingkan dengan hasil tes, dan menarik kesimpulan.

    Ketiga, diagnosis. Diagnosis adalah keputusan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa: keputusan mengenai berat dan ringan kesulitan belajar siswa, keputusan mengenai faktor yang ikut menjadi penyebab kesulitan belajar siswa, dan keputusan mengenai faktor utama penyebab kesulitan belajar siswa.

    Keempat, prognosis. Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan penyusunan program bantuan terhadap siswa yang berkesulitan belajar. Dalam penyusunan program tersebut dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan rumus 5W + 1H. Who, siapa yang memberi bantuan kepada siswa dan siapa yang harus mendapat bantuan? What, materi apa yang diperlukan? Alat bantu apa yang harus dipersiapkan? Pendekatan dan metode apa yang digunakan? When, kapan pemberian bantuan itu dilakukan? Where, di mana bantuan itu dilaksanakan? Which, siswa yang mana diprioritaskan mendapatkan bantuan lebih dulu? How, bagaimana pemberian bantuan itu dilaksanakan?

    Kelima, perlakuan (treatment). Bentuk-bentuk perlakuan yang mungkin dapat diberikan adalah: melalui bimbingan belajar individual, melalui bimbingan belajar kelompok, melalui remedial teaching, melalui bimbingan orang tua di rumah, bimbingan pribadi untuk masalah-masalah psikologis, bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum, dan bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran. Keenam, evaluasi. Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan itu berhasil dengan baik. Jika hasil perlakuan kurang baik, maka perlu dilakukan pengecekan. Secara teoretis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah: re-ceking, re-diagnosis, re-prognosis, re-treatment, dan re-evaluasi. Jika perlakuan tetap kurang baik, maka pelakuan harus diulang.

    Strategi khusus

    Kesulitan belajar, seperti dikemukakan Mulyono Abdurrahman (2003), paling tidak mencakup kesulitan belajar kognitif, kesulitan belajar bahasa (bahasa ujaran, membaca, dan menulis) dan kesulitan belajar matematika. Mengingat terbatasnya ruang, maka dalam bagian ini hanya akan dibahas strategi khusus mengatasi kesulitan belajar kognitif dan kesulitan belajar bahasa ujaran.

    Kesulitan belajar kognitif adalah salah satu bentuk kesulitan belajar yang bersifat perkembangan (development learning) atau kesulitan belajar preakademik (preacademic learning disabilities). Kesulitan belajar jenis ini perlu mendapat perhatian karena sebagian besar dari belajar akademik terkait dengan ranah kognitif. Salah satu elemen penting dari kognisi adalah ingatan atau memori. Ingatan atau memori ini memiliki peran penting dalam pencapaian prestasi belajar akademik. Di samping itu, metakognisi juga merupakan bagian yang sangat penting bagi pengembangan motorik.

    Ada dua strategi memori yang sering digunakan oleh siswa yang tidak berkesulitan belajar tetapi tidak digunakan oleh siswa berkesulitan belajar. Kedua strategi memori tersebut adalah pengulangan dan pengorganisasian. Oleh karena itu, siswa berkesulitan belajar perlu dilatih untuk mengulangi dan mengorganisasikan materi yang harus dipelajari agar strategi ini menjadi kebiasaan.

    Metakognisi, menurut Flavell dan Schoenfield, merupakan pengetahuan tentang penggunaan dan keterbatasan informasi dan strategi khusus serta kemampuan mengontrol dan mengevaluasi penggunaannya. Oleh karena itu, keterampilan meta- kognisi sering disebut juga keterampilan eksekutif, keterampilan manajerial atau keterampilan mengontrol. Siswa berkesulitan belajar umumnya memiliki keterampilan metakognisi yang rendah. Dalam kaitan adanya metakognisi ini, Hallahan, kauffman dan Lloyd merinci adanya metamemory, metalistening, dan metacomprehension. Metamemory berkenaan dengan pengetahuan tentang proses memorinya sendiri dan penggunaannya; metalistening berkenaan dengan pengetahuan tentang proses mendengarkan atau cara memperhatikan suatu pembicaraan yang disampaikan orang lain kepadanya, sedangkan metacomprehension berkenaan dengan pengetahuan seseoang tentang proses memahami bacaan yang dilakukannya sendiri.

    Dalam mengatasi siswa yang mengalami masalah dengan metamemory perlu menggunakan strategi memori seperti penggunaan “jembatan keledai” atau pengorganisasian materi pelajaran yang perlu dihapal hendaknya secara langsung diajarkan kepada siswa yang bersangkutan. Sementara itu siswa yang mengalami masalah dengan metalistening, perlu dibimbing agar mereka berupaya mengumpulkan informasi yang cukup sebelum menjawab suatu permasalahan. Sedangkan siswa yang mengalami kelemahan keterampilan metacomprehension, Hallahan, Kauffman dan Lloyd mengemukakan strategi-strategi: menjelaskan tujuan membaca, memusatkan perhatian pada bagian-bagian penting bacaan, memantau taraf pemahamannya sendiri, membaca ulang dan membaca cepat lebih dahulu, menggunakan kamus atau ensiklopedi.

    Bahasa merupakan suatu komunikasi yang terintegrasi, mencakup bahasan, ujaran, membaca dan menulis. Di sini hanya dibahas tentang kesulitan belajar bahasa ujaran. Menurut Lovitt, penyebab terjadinya kesulitan belajar bahasa adalah kekurangan kognitif yang meliputi memahami dan membedakan makna bunyi wicara, pembentukan konsep dan pengembangannya ke dalam unit-unti semantik, mengklasifikasikan kata, mencari dan menetapkan kata yang ada hubungannya dengan kata lain, memahami saling keterkaitan antara masalah, proses, dan aplikasinya, perubahan makna dan menangkap makna secara penuh; kekurangan dalam memori; kekurangan kemampuan menilai; kekurangan kemampuan produksi bahasa; dan kekurangan pragmatik.

    Selain itu strategi mengatasi kesulitan belajar bahasa dapat dilakukan dengan lima macam pendekatan remediasi (Mulyono Abdurrahman, 2003).

    Pertama, pendekatan proses yang bertujuan untuk memperkuat dan menormalkan proses yang dipandang sebagai dasar dalam memperoleh kemahiran berbahasa dan komunikasi verbal. Proses yang ditekankan pada jenis remediasi ini adalah persepsi auditoris, memori, asosiasi, interpretasi, dan ekspresi verbal. Tujuan remediasi ditekankan pada peningkatan pemahaman bahasa dan penggunaan modalitas auditoris, menulis, dan bahasa nonverbal. Pendekaan ini sering disebut juga pendekatan psikolinguistik.

    Kedua, pendekatan analisis tugas yang bertujuan untuk meningkatkan kompleksitas pengertian (semantik), struktur (morfologis dan sintaksis), atau fungsi (pragmatik) bahasa siswa. Pendekaan ini menekankan pada pengembangan arti kata, konsep bahasa, dan memperkuat kemampuan berpikir logis.

    Ketiga, pendekatan behavioral atau perilaku yang bertujuan untuk memodifikasi atau mengubah bahasa lahir dan perilaku komunikasi. Pendekatan ini secara umum menggunakan prinsip-prinsip operan conditioning untuk memunculkan perilaku yang diharapkan atau menghilangkan perilakuk bahasa yang tidak sesuai.

    Keempat, pendekatan interaktif-interpersonal yang secara umum bertujuan untuk memperkuat kekemampuan pragmatik dan memngembangkan kompetensi komunikasi. Tujuan lainnya adalah meningkatkan pengambilan peran dan kemampuan pengambilan peran siswa dalam berkomunikasi, mengembangkan persepsi sosial non-verbal, dan meningkatkan gaya komunikasi verbal dan non-verbal.

    Kelima, pendekatan sistem lingkungan total yang bertujuan untuk menciptakan peristiwa atau situasi yang kondusif, sehingga dengan demikian mendorong terjadinya peningkatan frekuensi berbahasa dan pengalaman berkomunikasi siswa. Pendekaan ini sering disebut juga dengan pendekatan holistik.

    Download Pdf

    Download

    Radar Kepri

    Layanan Pendidikan Bagi Tunanetra

    Juni 01, 2017
    Layanan Pendidikan Bagi Tunanetra

    Jenjang Pendidikan

    Tunanetra sangat memerlukan layanan pendidikan khusus. Jenjang pendidikan bagi anak tunanetra terdiri dari:
    1. Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB)
    2. A. Program Kegiatan Belajar:
      • Program umum: pembentukan perilaku melalui pengembangan Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani.
      • Program khusus: Orientasi dan Mobilitas.
      B. Susunan Program Pengajaran:
      • Kegiatan belajar 3 jam perhari. Setiap jam pelajaran lamanya 30 menit.
      • Lama Pendidikan: berlangsung selama satu sampai tiga tahun
      • Usia: sekurang-kurangnya berusia 3 tahun
      • Rasio guru dan murid: 1 guru membimbing 5 peserta didik.
      • Sistem guru: (a) Guru kelas, kecuali untuk bidang pengembangan Orientasi dan Mobilitas. (b) Team teaching
    3. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
    4. A. Kurikulum:
      • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajian Tangan dan Kesenian, pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
      • Program Khusus: Orientasi dan Mobilitas, dan Braille
      • Program Muatan Lokal antara lain: bahasa Daerah, bahasa Inggris, Kesenian Daerah atau lainnya yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Daerah setempat.
      B. Susunan Program Pengajaran:

      Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 30 sampai 42 jam pelajaran tiap minggu. Untuk kelas I dan II setiap jam pelajaran lamanya 30 menit, kelas III sampai dengan VI setiap jam pelajaran lamanya 40 menit.
      C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 6 tahun.
      D. Usia: sekurang-kurangnya berusia 6 tahun
      E. Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
      F. Sistem guru:
      (a) Guru kelas, kecuali untuk mata pelajaran Orientasi dan Mobilitas, pendidikan Agama, pendidikan jasmani dan Kesehatan. (b) Team teaching. (c) Mengembangkan program pendidkan individual bagi siswa tunanetra yang membutuhkan layanan tertentu.

    5. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
    6. A. Kurikulum:
      • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, pendidikan Jasmani dan Kesehatann bahasa Inggris.
      • Program Khusus: Orientasi dan Mobilitas, dan Braille.
      • Program Muatan Lokal: bahasa Daerah, Kesenian Daerah atau lainnya yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Daerah setempat.
      • Program Pilihan: paket keterampilan Rekayasa, Pertanian, Usaha dan Perkantoran, Kerumahtanggaan, dan Kesenian.
      B. Susunan Program Pengajaran: Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran tiap minggu. Setiap jam pelajaran lamanya 45 menit. Alokasi waktu program umum, program khusus dan muatan lokal kurang lebih 48%, sedangkan alokasi waktu program pilihan kurang lebih 52%.
      C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 tahun.
      D. Siswa: telah tamat Sekolah Dasar Luar Biasa atau satuan pendidikan yang sederajat/setara.
      E. Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
      F. Sistem guru: Guru mata pelajaran
    7. Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB)
    8. A. Kurikulum:
      • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, pendidikan Jasmani dan Kesehatan Bahasa Inggris.
      • Program Khusus: Braille
      • Program Pilihan: paket keterampilan Rekayasa, Pertanian, Usaha dan Perkantoran, Kerumahtanggaan, dan Kesenian.
      B. Susunan Program Pengajaran: Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran tiap minggu. Setiap jam pelajaran lamanya 45 menit. Alokasi waktu program umum kurang lebih 38%, sedangkan alokasi waktu program plihan kurang lebih 62%.
      C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 tahun.
      D. Siswa: telah tamat Sekolah Menengah Pertama atau yang sederajat/setara. 5) Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
      E. Sistem guru: Guru mata pelajaran

    Metode Pembelajaran Gerak Irama Pada Tunagrahita

    Juni 01, 2017
    Gerak Irama dalam pembelajaran bagi anak tunagrahita

    Mengenal Anak Tunagrahita

    Pendidikan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan suatu pola layanan tersendiri, khususnya bagi anak tunagrahita. Sebagaimana telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan fungsi kecerdasan dan fungsi intelektual serta adaptasi tingkah laku yang terhambat sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan lain yang terjadi pada masa perkembangannya.

    Alasan-Alasan perlunya pembelajaran gerak irama

    Mereka yang bersekolah pada usia dini di taman kanak-kanak, sekolah tingkat dasar, dan menengah, memerlukan keseriusan para guru dalam pembelajaran dan bimbingan agar tingkat perkembangan diri anak yang bersangkutan dapat tercapai sesuai dengan keberadaannya.

    Dewasa ini, di negara-negara Eropa dan Amerika, juga Indonesia pola layanan belajar di sekolah-sekolah mulai bergeser dari segregatif ke arah integratif, dan bahkan ke arah inklusif. Sekolah-sekolah regulier tidak jarang menerima siswa dengan kebutuhan khusus, sehingga diperlukan suatu bentuk penanganan tersendiri, baik dalam pola pembelajaran  maupun pola bimbingan saat berada di sekolah. Kegiatan layanan pembelajaran terhadap para siswa yang mengalami hambatan fungsi kecerdasan atau lebih populer disebut dengan tunagrahita sering mendapat kesulitan yang diantaranya dalam membuat program atau rancangan pembelajaran, memilih metode pembelajaran, menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa yang bersangkutan, dan belum ditemukannya cara yang cocok guna meningkatkan kognisi sekaligus kemampuan sosial siswa tersebut.

    Rancangan pembelajaran individual untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut perlu dibuatkan suatu program pembelajaran dengan memasukkan intervensi guru secara khusus yang sesuai dengan kemampuan atau kelemahan siswa dengan kebutuhan khusus. Di antara anak yang mempunyai hambatan fungsi kecerdasan dan itelektual sering kali dibarengi dengan kurangnya kemampuan dalam beradaptasi. Misalnya, seorang anak Down's Syndrome dapat dimungkinkan mempunyai hambatan seperti spastik, autism, hiperaktif, atau kesulitan belajar. Oleh karena itu guru sebagai pendidik perlu memperhatikan secara serius karakteristik spesifik, selain perkembangan kognisi dan sosial siswa bersangkutan. Perkembangan kognisi dan sosial meliputi perkembangan pada tingkat sensorimotor, akademik, kemampuan berbahasa, keterampilan mengurus diri sendiri, pemahaman terhadap konsep diri, kemampuan berinteraksi sosial, dan menumbuhkan rasa kreativitas.

    Implementasi Program Pembelajaran Gerak Irama

    Adanya kesulitan pada tingkat kemampuan tersebut, maka suatu program pembelajaran semestinya bersifat "terobosan" yang dapat menjembatani antara kepentingan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan kognisi sesuai dengan kurikulum dan kondisi siswa. Tujuan pengaplikasian Gerak Irama dalam pembelajaran bagi anak tunagrahita adalah pencapaian sasaran perilaku yang perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik spesifik siswa. Proses pembelajaran Gerak Irama yaitu suatu kegiatan belajar-mengajar dengan menggunakan unsur pola gerak yang sesuai dengan kemampuan atau dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan, khususnya perkembangan gerak yang terdapat pada diri setiap siswa. Karena umumnya anak-anak tunagrahita mempunyai masalah dalam keterampilan gross dan fine motor, mempunyai hambatan dalam sistem saraf sehingga sulit mencapai gerak dalam sekuensi perkembangan normal.

    Photo Kegiatan Pembelajaran di SLB Sindangsari

    Juni 01, 2017
    kegiatan pembelajaran di SLB Sindangsari

    Photo kegiatan pembelajaran di SLB Sindangsari Cikoneng Ciamis, Selain belajar akademik, mereka juga diajarkan keterampilan, seperti membuat sandal jepit, membordir, menjahit, dan keterampilan lainnya..

    Lihat Galery untuk melihat photo lainnya....

    imagekegiatan pembelajaran di SLB Sindangsarikegiatan pembelajaran di SLB Sindangsarikegiatan pembelajaran di SLB Sindangsarikegiatan pembelajaran di SLB Sindangsari

    Pengertian Autis

    Juni 01, 2017
    Anak Autis

    A. Pengertian Autis

    Secara harfiah autisme berasal dari kata autos =diri dan isme= paham/aliran.
    1. American Psych: autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku “Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austistik”. (American Psychiatic Association 2000)
    2. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang bersifat pervasive (inco) yaitu meliputi gangguan kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan gangguan interaksi sosial (Mardiyatmi ‘ 2000). 
    3. Gangguan autisme terjadi pada masa perkembangan sebelum usia 36 bulan “Sumber dari Pedoman Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa” (PPDGJ III) 
    4. Autisme dapat terjadi pada anak, tanpa perbedaan ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan.
    5. Privalensi Autisme diperkirakan 1 per 150 kelahiran. Menurut penelitian di RSCM selama tahun 2000 tercatat jumlah pasien baru Autisme sebanyak 103 kasus. Dari privalensi tersebut diperkirakan anak laki-laki autistik lebih banyak dibanding perempuan (4:1).

    B. Tanda-Tanda Anak Autistik

    Anak autistik menunjukkan gangguan–gangguan dalam aspek-aspek berikut ini: (sering dapat diamati sehari-hari) Bagaimana Anak Austistik berkomunikasi?
    1. Sebagian tidak berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.
    2. Tidak mampu mengekpresikan perasaan maupun keinginan 
    3. Sukar memahami kata-kata bahasa orang lain dan sebaliknya kata-kata/bahasa mereka sukar dipahami maknanya.
    4. Berbicara sangat lambat, monoton, atau tidak berbicara sama sekali. 
    5. Kadang-kadang mengeluarkan suara-suara aneh.  
    6. Berbicara tetapi bukan untuk berkomunikasi.
    7. Suka bergumam. 
    8. Dapat menghafal kata-kata atau nyanyian tanpa memahami arti dan konteksnya. 
    9. Perkembangan bahasa sangat lambat bahkan sering tidak tampak. 
    10. Komunikasi terkadang dilakukan dengan cara menarik-narik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginannya.

    Bagaimana anak austistik bergaul?

    1. Tidak ada kontak mata
    2. Menyembunyikan wajah 
    3. Menghindar bertemu dengan orang lain 
    4. Menundukkan kepala 
    5. Membuang muka 
    6. Hanya mau bersama dengan ibu/keluarganya 
    7. Acuh tak acuh, interaksi satu arah. 
    8. Kurang tanggap isyarat sosial. 
    9. Lebih suka menyendiri.  
    10. Tidak tertarik untuk bersama teman. 
    11. Tidak tanggap / empati terhadap reaksi orang lain atas perbuatan sendiri.

    Bagaimana anak autistik membawakan diri ?

    1. Menarik diri
    2. Seolah-olah tidak mendengar (acuk tak acuh/tambeng) 
    3. Dapat melakukan perintah tanpa respon bicara 
    4. Asik berbaring atau bermain sendiri selama berjam-jam
    5. Lebih senang menyendiri. 
    6. Hidup dalam alam khayal (bengong) 
    7. Konsentrasi kosong 
    8. Menggigit-gigit benda 
    9. Menyakiti diri sendiri 
    10. Sering tidak diduga-duga memukul teman
    11. Menyenangi hanya satu/terbatas jenis benda mainan 
    12. Sering menangis/tertawa tanpa alasan 
    13. Bermasalah tidur/tertawa di malam hari 
    14. Memukul-mukul benda (meja, kursi) 
    15. Melakukan sesuatu berulang-ulang (menggerak-gerakkan tangan, mengangguk-angguk dsb)
    16. Kurang tertarik pada perubahan dari rutinitas

    Bagaimana kepekaan sensori integratifnya anak autistik ?

    1. Sangat sensitif terhadap sentuhan ,seperti tidak suka dipeluk.
    2. Sensitif terhadap suara-suara tertentu 
    3. Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda. 
    4. Sangat sensitif atau sebaliknya, tidak sensitif terhadap rasa sakit.

    Bagaimana Pola Bermain autistik anak?

    1. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
    2. Kurang/tidak kreatif dan imajinatif  
    3. Tidak bermain sesuai fungsi mainan 
    4. Menyenangi benda-benda berputar, sperti kipas angin roda sepeda, dan lain-lain. 
    5. Sering terpaku pada benda-benda tertentu

    Bagaimana keadaan emosi anak autistik ?

    1. Sering marah tanpa alasan.
    2. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum )bila keinginan tidak dipenuhi. 
    3. Tiba-tiba tertawa terbahak-bahak atau menangis tanpa alasan 
    4. Kadang-kadang menyerang orang lain tanpa diduga-duga.

    Bagaimana kondisi kognitif anak autisti ?

    Menurut Penelitian di Virginia University di Amerika Serikat diperkirakan 75 – 80 % penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata/retardasi mental, sedangkan 20 % sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normal ataupun di atas normal untuk bidang-bidang tertentu.

    1. Sebagian kecil mempunyai daya ingat yang sangat kuat terutama yang berkaitan denga obyek visual (gambar)
    2. Sebagian kecil memiliki kemampuan lebih pada bidang yang berkaitan dengan angka.

    Mengenal Temper Tantrum Pada Anak

    Mei 22, 2017
    Mengenal Temper Tantrum
    Mengenal Temper Tantrum

    Info [K-moe] - Temper Tantrum merupakan suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper tantrum (Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 bulan sampai usia 6 tahun. Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut :

    1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar yang tidak teratur.
    2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
    3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
    4. Memiliki mood (suasana hati) yang lebih sering negatif.
    5. Mudah terprovokasi dan gampang merasa marah/kesal.
    6. Sulit dialihkan perhatiannya.

    Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah contoh perilaku Tantrum pada anak usia dibawah 3 tahun :

    1. Menangis
    2. Menggigit
    3. Memukul 
    4. Menendang
    5. Menjerit
    6. Memekik-mekik
    7. Melengkungkan punggung
    8. Membentur-benturkan kepala
    9. Melempar badan ke lantai
    10. Memukul-mukulkan tangan
    11. Menahan nafas
    12. Melempar-lemparkan barang

    Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Menghadapi Anak Autis

    April 23, 2017

    Info [K-moe]– Bagi sebagian orang tua Autisme merupakan sebuah mimpi buruk. Beberapa orangtua langsung merasa stres saat mendengar anaknya didiagnosis autisme. Beberapa pusat penanganan anak autis sekarang ini sudah banyak tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Sayangnya, orangtua penyandang autisme di daerah mungkin merasa kesulitan jika hendak merujuk anaknya. Orang tua merasa stres mungkin karena ketidak tahuan orang tua dalam menghadapi anaknya yang autis. 

    Problematika yang timbul dalam menghadapi anak autis dapat dilihat dari berbagai faktor, seperti :

    a. Faktor Penyandang (Autisme)

    • Autisme disebabkan oleh adanya gangguan neurobiologis dan kimiawi di dalam susunan saraf pusat yang terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun. Karena itu terapinya menjadi sangat sulit.

    • Ada / tidak adanya penyakit fisik atau psikis lain yang menyertainya

    • Gangguan interaksi sosial

    • Gangguan komunikasi

    • Tingkah laku, minat dan aktifitasnya terbatas, berulang dan stereotipik.

    b. Faktor orang tua dan keluarga
    • Pada umumnya, pengetahuan orang tua dan keluarga dari anak autis tentang autisme masih sangat rendah sehingga penanggulannya sering terlambat

    • Orang tua dan keluarga menjadi gelisah, cemas, depresi bahkan putus asa setelah penanganan yang diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata
    • Orang tua dan keluarga menjadi hilang kesabarannya dan tidak peduli lagi pada anaknya, karena penanganan yang diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata

    • Orang tua dan keluarga menjadi over protected akibat munculnya perasaan bersalah / berdosa telah melahirkan anak autis.

    c. Faktor lingkungan masyarakat – Pengetahuan masyarakat yang sangat minim tentang autisme mengakibatkan mereka tidak peduli dan menganggap rendah anak autis, atau bahkan menganggap anak autis adalah anak yang tidak berguna.

    d. Faktor diagnostik dan terapi – Idealnya terapi deberikan sedini mungkin dan melibatkan beragam profesi keahlian. Tetapi, tidaklah mudah membuat diagnosis dini anak autis, terutama bila dokternya belum banyak pengalaman. Karena itu terapinya sering terlambat.

    e. Faktor lingkungan pendidikan – Belum ada lingkungan pendidikan / sekolah yang memadai untuk mengelola anak autis secara komprehensif.

    Pada anak autis, pendidikan dan pelatihan yang dilandasi rasa kasih sayang dan keterlibatan orang tua / keluarganya mutlak diperlukan agar mereka mampu mengembangkan kemampuannya secara optimal. Untuk mengembangkan kemampuan anak autis, perlu pendekatan yang bersifat intersektoral dan interdisiplin. Karena itu, perlu dibuat suatu program yang terpadu dan berkesinambungan dengan langkah-langkah yang terstruktur, jelas dan mudah dimengerti oleh tim atau orang-orang yang terlibat dalam upaya membangun dan mengembangkan kemampuan anak autis tersebut.

    Strategi dalam menyusun dan melaksanakan langkah-langkah dimaksud adalah :

    a. Intervensi secara dini

    b. Informasi kepada orang tua / keluarganya

    c. Terapi medik

    d. Pendidikan dan pelatihan untuk anak autis

    e. Bimbingan untuk orang tua dan keluarganya

    f. Membangun kerjasama orang tua dan keluarga dengan anak

    g. Membentuk ikatan keluarga orang tua anak autis

    h. Evaluasi perkembangan kemampuan anak

    i. Rencana lebih lanjut.

    Dokumentasi Pelaksanaan Pramuka ABK Ciamis 2012

    April 20, 2017
    Pramuka Anak Berkebutuhan KHusus Ciamis 2012

    Info [K-moe]– Gerakan Praja Muda Karana adalah organisasi kepemudaan yang berorientasi kepada pengabdian kepadaNegara. Tujuan dari Gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisiknya untuk menjadi generasi muda Indonesia yang baik. Begitu pula dengan Anak Berkebutuhan Khusus, mereka perlu mendapatkan pendidikan karakter yang mampu mengembangkan mental, moral, spritual, emosial, sosial, intelektual, dan fisiknya sehingga diharapkan berdampak positif terhadap kepribadian dan kehidupannya.

    Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, khususnya Bidang Pendidikan Luar Biasa yaitu dengan diselenggarakan nya kegiatan yang bertajuk Pramuka SLB Sejati 2012/Pramuka SLB Ayo Bangkit dan dilaksanakan per Wilayah/Gugus termasuk kegiatan pramuka yang dilaksanakan beberapa waktu yang lalu di Pangandaran Ciamis Jawa Barat pada hari Jum'at 19-21 Oktober 2012 Wilayah Priangan Timur yang diikuti beberapa kabupaten dan kota seperti Kab. Garut, Kota dan Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis, dan Kota Banjar yang terdiri dari Gugus 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 48, dan gugus 49 dengan keseluruhan jumlah peserta sebanyak 350 orang.

    Pelaksanaan pertemuan pramuka anak berkebutuhan khusus tersebut bermaksud untuk membina dan mengembangkan penghayatan kode kehormatan yang berupa janji Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, serta memupuk persaudaraan dan persatuan di kalangan para Pramuka Anak Berkebutuhan Khusus.Selain itu pramuka anak berkebutuhan khusus juga dilaksanakan untuk :

    1. Meningkatkan kemampuan mental, fisik dan pengetahuannya, serta semangat untuk maju terus pantang putus asa sesuai dengan kemampuan yang ada bagi anak berkebutuhan khusus.
    2. Meningkatkan disiplin pribadi, rasa tanggung jawab dan kesetian terhadap regunya, pasukannya dan gugus depannya dalam mempertahankan prestasi dan prestise.
    3. Meningkatkan pemahaman dan penghayatan semangat kepramukaan, dengan system beregu dan system among dalam menumbuhkan kerukunan, kekompakan, gotong royong dan rasa setia kawan antar peserta pramuka.
    4. Memperoleh tambahan pengetahuan, keterampilan dan hubungan atau teman serta kenangan hidup yang indah dan memuaskan.

    Tujuan pelaksanaan pramuka tersebut ternyata terbukti, anak-anak antusias mengikuti kegiatan pramuka. Bahkan pada acara pentas seni banyak orang yang merasa tergugah hatinya, terharu, bangga, kagum melihat mereka berkarya dibalik kekurangan dan keterbatasan mereka.

    Dokumentasi Kegiatan Pertemuan Pramuka ABK 2012

    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran
    Pramuka ABK di Pangandaran

    Pameran PK PLK Ciamis 2011

    April 19, 2017

    Info [K-moe]– PAMERAN HASIL KARYA ANAK PK & PLK (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS) DI CIAMIS DENGAN PESERTA DARI KAB. CIAMIS, KOTA DAN KAB. TASIKMALAYA, BANJAR DAN GARUT TAHUN 2011

    Pamperan Anak Berkebutuhan Khusus Ciamis

    Info [K-moe]– Kegiatan Pameran dilaksanakan untuk menunjukkan kepada masyarakat/dunia luar kalo mereka (Anak berkebutuhan khusus) dengan kekurangan mereka, mereka mampu berkarya, mampu menghasilkan karya yang mempunyai nilai seni dan nilai yang mampu menghapus paradigma negatif anak abk. Penampilan mereka dipanggung sangat apik membuat acara semakin meriah.

    Semoga saja acara dari tahun ketahun berikutnya menjadi lebih menarik.

    Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe] Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe] Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]Info [K-Moe]