Tampilkan postingan dengan label Tunanetra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tunanetra. Tampilkan semua postingan

Download Kompetensi dan Indikator OMSK Revisi 2017

Oktober 17, 2017
Download Kompetensi dan Indikator Progsus OMSK - Info [K-Moe]
Info [K-Moe]

Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi bagi setiap anak berkebutuhan khusus berbeda-beda disesuaikan dengan jenis kekhususannya.

Kompetensi dan Indikator Progsus OMSK

Pada artikel sebelumnya tentang konsep pengembangan orientasi mobilitas, interaksi sosial dan komunikasi bagi tunanetra merupakan satu kemampuan, kesiapan dan mudahnya bergerak dari satu posisi/tempat ke satu posisi/tempat lain yang dikehendaki dengan baik, tepat, efektif, dan selamat bagi,sehingga dapat mengatasi hambatan dalam intereksi sosial dan komunikasi tunanetra dengan lingkunganya perlu dikembangkan.

Untuk mencapai hal tersebut diatas, diperlukan suatu acuan apa saja yang harus dicapai oleh anak dalam pembelajaran OMSK seperti Kompetensi dan Indikator yang harus dicapai

KD dan Indikator tertuang dalam program pembelajaran OMSK yang disusun oleh guru. Melalui program pembelajaran OMSK yang terstrukur sesuai dengan kurikulum dan kemampuan anak, maka diharapkan tingkat keberhasilan dalam belajar pun akan meningkat dan dapat berjalan secara optimal.

Download Kompetensi dan Indikator OMSK Revisi 2017

DownloadBaca Online

Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra

September 28, 2017
Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra
Orientasi dan Mobilitas Bagi Peserta Didik Tunanetra

Konsep Orientasi Mobilitas,interaksi Sosial dan Komunikasi (OMSK) Bagi Tunanetra

Tunanetra merupakan individu yang mengalami kelainan pada indera visualnya sedemikian rupa sehingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-harinya dan mengalami keterbatasan dalam Orientasi Mobilitas ,interaksi Sosial dan Komunikasi (OMSK) terhadap dunia luar yang tidak dapat diperoleh secara utuh. Oleh karena itu membutuhkan pengembangan keterampilan OMSK yang mampu mengkompensasikan keterbatasan yang dimiliki.

Keterkaitan OMSK dengan ketunanetraan

Keterkaitan Ketunanetraan dengan perlunya pengembangan OMSK pada tunanetra adalah sebagai berikut:
  1. Keterbatasan dalam pindah tempat (Mobilitas)
  2. Merupakan akibat langsung dari ketunanetraan itu sendiri.Keanekaragaman informasi dan pengalaman akan diperoleh dengan lebih luas bila seseorang dapat berpergian dengan bebas dan mandiri. Untuk terciptanya interaksi dengan lingkungan fisik maupun sosial dibutuhkan adanya kemampuan berpindah-pindah tempat. Semakin mampu dan terampil anak tunanetra melakukan mobilitas semakin berkurang hambatan berinteraksi dengan lingkungan.
  3. Kehilangan kemampuan melihat
  4. Merupakan hilangnya kemampuan memperoleh informasi dari lingkungan karena penglihatan merupakan saluran utama bagi manusia untuk memperoleh informasi dari lingkunganya.Untuk itu anak tunanetra harus mengantungkan pada indra lain yang masih berfungsi seperti : pendengaran,perabaan, penciuman, pengecap serta pengalaman kenestetik merupakan keindraan yang cukup penting. Akan tetapi indar-inda ini sering tidak dapat mengamati, memahami dan menjangkau obyek diluar jangkauan fisiknya. Hal ini berdampak dalam memperolah pengalaman baru bagi tunatetra.
  5. Keterbatasan interaksi dengan lingkungan
  6. Ketunanetraan mengakibatkan keterpisahan individu dengan lingkungan fisik dan sosial pada batas-batas tertentu. Keterpisahan dengan lingkungan fisik maupun sosial mengakibatkan adanya kepasifan pada tunanetra. Hilangnya rangsangan visual berdampak pada aktifitas untuk mendekatkan diri dengan orang lain yang ada dilingkungannya tidak terjadi secara mudah bagi tunanetra hal ini lambat laun akan mengakibatkan hilangnya keinginan untuk berinteraksi dengan lingkunganya.Banyaknya aktifitas interaksi sosial yang tidak dapat dilakukan anak tunanetra mengakibatkan rasa frustasi. Disinilah pentingnya pengembangan kemampuan OMSK pada anak tunanetra agar dia dapat mengatasi hambatan dalam komunikasi dengan lingkungan.

Dengan demikian, konsep pengembangan orientasi mobilitas, interaksi sosial dan komunikasi bagi tunanetra merupakan satu kemampuan, kesiapan dan mudahnya bergerak dari satu posisi/tempat ke satu posisi/tempat lain yang dikehendaki dengan baik, tepat, efektif, dan selamat. Sehingga dapat mengatasi hambatan dalam intereksi sosial dan komunikasi tunanetra dengan lingkunganya perlu dikembangkan.

Prinsip Orientasi dan Mobilitas Bagi tunanetra

Prinsip dasar orientasi dan mobilitas bagi tunanetra menurut Raharja dalam Sudarti (2015), yaitu kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan semua indera yang masih ada untuk menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda penting yang di sekitarnya baik secara temporal maupun spasial.

Mengacu pada prinsip di atas, maka aspek pengetahuan yang diperlukan untuk mempermudah individu tunanetra mengembangkan kemampuan dalam kehidupan sehari-hari dikelompokkan ke dalam 6 komponen (Hosni, 2013), yaitu:

1) Landmark (ciri medan), 2) Clues (tanda-tanda), 3) Numbering system (sistem penomoran), 4) Measurement (pengukuran), 5) Compas Direction (arah mata angin), dan 6) Self Familiarization (memfamiliarkan diri)

Teknik Orientasi dan Mobilitas Bagi tunanetra

Hadikasma dalam Sudarti (2015), menyebutkan bahwa sifat orientasi dan mobilitas yang berpusat pada praktek. Kemudian pada teori orientasi dan mobilitas hanya sebagai penunjang terlaksananya praktek, maka teknik belajar yang harus diberikan pada tunanetra antara lain:
  1. Memberikan informasi yang jelas atau konkrit dan menghindari kata ganti petunjuk, seperti ini, itu, di sana dan seterusnya
  2. memberi bantuan jika diperlukan
  3. Memberi kesempatan beradaptasi terhadap perubahan cahaya
Selain itu Kemendikbud (2014), teknik orientasi dan mobilitas yang diajarkan bagi tunanetra, yaitu:
  1. Teknik Pra Tongkat di Lingkungan Rumah dan Sekolah, b) Teknik Tongkat dalam Pembelajaran Orientasi dan Mobilitas.

Prinsip Aktivitas Dalam Pembelajaran Orientasi Dan Mobilitas

Dalam pembelajaran keterampilan Orientasi Dan Mobilitas bagi peserta didik tunanetra harus didasarkan pada kekongkritan dan aktivitasnya yang ditegaskan oleh Kemendikbud (2014), sebagai berikut.
  1. Prinsip Kekongkritan dalam pembelajaran orientasi dan mobilitas
  2. Pelaksanaan latihan pada tunanetra dikatagorikan kongkrit apabila materi latihan, tempat atau lokasi latihan, waktu suasana harus kongkrit. Untuk mengkongkritkan materi maka perlu dilengkapi dengan peraga pendukung yang bersifat kongkrit. Kongkrit bisa berarti bentuk aslinya atau modelnya. Penggunaan peraga model dilakukan bila penggunaan peraga asli tidak memungkinkan. Ketidakmungkinan penggunaan peraga asli bisa karena alasan etika, berbahaya atau membahayakan peserta didik, dan atau susah menemukan aslinya. Karena itu sejak dari rencana pembelajaran harus sudah dipikirkan bagaimana perencanaan latihan keterampilan orientasi dan mobilitas dapat dilaksanakan kongkrit.
  3. Aktivitas dalam pembelajaran orientasi dan mobilitas
  4. Aktivitas latihan pembelajaran orientasi mobilitas dilatihkan dengan cara praktek langsung serta ditunjang dengan media dan sarana prasarana yang mendukung.

Strategi Layanan Terpadu Dalam Pembelajaran Orientasi Dan Mobilitas

Mengingat pentingnya pembelajaran orientasi dan mobilitas dalam kehidupan tunanetra dan banyaknya waktu yang dibutuhkan, maka perlu menggunakan berbagai strategi layanan untuk pembelajaran (Kemendikbud, 2014), sebagai berikut.
  1. Pembelajaran terpadu, artinya sebagian materi pembelajaran OM masuk ke dalam mata pelajaran untuk dikembangkan.
  2. Pembelajaran tersendiri, artinya guru penanggung jawab keterampilan kekhususan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran secara langsung dan tersendiri, yang disesuaikan dengan umur perkembangan dan kebutuhannya.
  3. Pembelajaran prioritas, yaitu strategi ini dilaksanakan karena alasan tertentu yang ada pada tunanetra, misalnya karena peserta didik akan segera masuk di sekolah inklusi atau alasan kebutuhan yang mendesak, maka perlu diprioritaskan untuk dilakukan pembelajaran OM secara individual sampai kebutuhannya terpenuhi.

Metode dalam Mengajarkan Keterampilan Orientasi Dan Mobilitas Pada Peserta Didik Tunanetra

Kemendikbud (2014), mengemukakan bahwa pembelajaran keterampilan orientasi dan mobilitas pada peserta didik tunanetra menggunakan 3 (tiga) metode, yaitu.
  1. Pembelajaran dengan cara verbal
  2. Instruktur memberikan instruksi dengan verbal dan peserta didik melaksanakan instruksi verbal tersebut. Cara ini dapat berjalan apabila menghadapi tunanetra yang mempunyai kekayaan konsep yang cukup memadai. Bagaimana ia akan mengerti dengan apa yang dimaksud apabila tunanetra belum mempunyai konsep yang tepat tentang isi instruksi tersebut.
  3. Pembelalajaran dengan cara demonstrasi
  4. Guru memberikan contoh bagaimana teknik dan keterampilan itu dilaksanakan. Peserta didik tunanetra mengamati dengan meraba dari gerakan yang dicontohkan oleh instruktur. Setelah itu baru peserta didik mempraktekan dan meniru yang dicontohkan oleh instruktur.
  5. Pembelajaran dengan bantuan fisik
  6. Instruktur menyentuh langsung peserta didik tunanetra dan mencontohkan secara langsung kepada tunanetra. Kelemahan dari cara ini adalah adanya kontak langsung yang terlalu sering dengan peserta didik dan dapat berakibat tidak enak pada tunanetra, terutama yang telah dewasa. Instruktur dalam mengajarkan sesuatu teknik dalam mobilitas sering menggunakan ketiganya yaitu cara verbal, demonstrasi dan bantuan atau kontak fisik. Makin tiggi kemampuan tunanetra menerima pelajaran makin kurang penggunaan atau kontak fisik dalam proses belajarnya.

Download KI KD Kurtilas SMALB Tunanetra Revisi Terbaru

September 13, 2017
Info [K-Moe] Download KI KD SMALB Tunanetra
Info [K-Moe] - Download KI KD Kurikulum 2013 SMALB Tunanetra

Kompetensi Inti Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.

Kompetensi bagi setiap anak berkebutuhan khusus berbeda-beda disesuaikan dengan jenis kekhususannya. KI dan KD bagi tunanetra yang memiliki hambatan dalam mengoptimalkan fungsi penglihatannya dapat di unduh di bawah ini.

Download KI KD Kurikulum 2013 SMALB Tunanetra

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar bagi Tunanetra Satuan Pendidikan SMALB semua mata pelajaran mulai dari kelas X sampai kelas XII dapat diunduh di bawah ini

Download

Password : www.dokumenoperator.tk

Download KI KD Kurtilas SMPLB Tunanetra Revisi Terbaru

September 12, 2017
Info [K-Moe] Download KI KD SMPLB Tunanetra
Info [K-Moe] - Download KI KD Kurikulum 2013 SMPLB Tunanetra

Kompetensi Inti Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.

Download KI dan KD Kurikulum 2013 SMPLB Tunanetra

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar bagi Tunanetra Satuan Pendidikan SMPLB semua mata pelajaran mulai dari kelas VII sampai kelas IX dapat diunduh di bawah ini

Download

Password : www.dokumenoperator.tk

Download KI KD Kurtilas SDLB Tunanetra Revisi Terbaru

September 11, 2017
Info [K-Moe] Download KI KD SDLB Tunanetra
Info [K-Moe] - Download KI KD Kurikulum 2013 SDLB Tunanetra

Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.

Download KI dan KD Kurikulum 2013 SDLB Tunanetra

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar bagi Tunanetra Satuan Pendidikan SDLB semua mata pelajaran mulai dari kelas I sampai kelas VI dapat diunduh di bawah ini

Download

Password : www.dokumenoperator.tk

Buku Siswa - Seni Budaya Kelas 10 SMALB Tunanetra

Agustus 30, 2017
Buku Siswa - Seni Budaya Kelas 10 SMALB Tunanetra
Buku Siswa - Seni Budaya Kelas 10 SMALB Tunanetra
UraianKeterangan
JudulSeni Budaya
JenisBuku Siswa
Satuan PendidikanSMALB
KelasX (10)
KekhususanTunanetra
KontributorJULIUS JUIH
PenerbitKementrian Pendidikan Dan Kebudayaan
Jumlah Halaman122 hal.
Tahun2014

Daftar Isi

  1. Menyanyikan Lagu Daerah
  2. Menyanyikan lagu
  3. Teknik bermain instrumen musik
  4. Dramatic Reading

Pertimbangan

Buku ini dipublikasikan di blog ini bermaksud hanya untuk membantu guru-guru yang di sekolahnya tidak memiliki buku tersebut dan memerlukannya untuk proses pembelajaran di sekolah.

Bagi anda yang berkeinginan mengunduh buku ini niatkanlah dalam hati anda untuk mempergunakannya sebagaimana mestinya bukan untuk diperjualbelikan atau dikomersilkan.

Download Buku

Klik tombol download atau baca

DownloadBaca Online

Buku Siswa - B. Indonesia Kelas 10 SMALB Tunanetra

Agustus 29, 2017
Buku Siswa - B. Indonesia Kelas 10 SMALB Tunanetra
Buku Siswa - B. Indonesia Kelas 10 SMALB Tunanetra
UraianKeterangan
JudulBahasa Indonesia
JenisBuku Siswa
Satuan PendidikanSMALB
KelasX (10)
KekhususanTunanetra
KontributorSri Satata, Kauliyani
PenerbitKementrian Pendidikan Dan Kebudayaan
Jumlah Halaman106 hal.
Tahun2014

Daftar Isi

  1. Kritik Humor dan Anekdot
  2. Bijak Berpendapat dalam Kehidupan Sehari-hari
  3. Mari Pedulikan Lingkungan Hidup
  4. Proses Menjadi Warga Negara yang Baik
  5. Santun dan Bernegosiasi

Pertimbangan

Buku ini dipublikasikan di blog ini bermaksud hanya untuk membantu guru-guru yang di sekolahnya tidak memiliki buku tersebut dan memerlukannya untuk proses pembelajaran di sekolah.

Bagi anda yang berkeinginan mengunduh buku ini niatkanlah dalam hati anda untuk mempergunakannya sebagaimana mestinya bukan untuk diperjualbelikan atau dikomersilkan.

Download Buku

Klik tombol download atau baca

DownloadBaca Online

Riri (Tuna Netra) "Cover Simfhoni Yang Indah"

Juni 03, 2017
Riri (Tuna Netra) Cover Simfhoni Yang Indah

Manusia dilahirkan dengan berbagai kelebihan dan kelemahannya. Begitu pula dengan Riri Siswa SLB Negeri Sukanagara Cianjur, dengan keterbatasannya yang tidak dapat melihat (tunanetra) tetapi mampu memaksimalkan salah satu potensi yang ada pada dirinya.

Video ini diharapkan dapat memotivasi orangtua yang memiliki anak difabel yang masih kerap menyembunyikan anaknya, dengan cara tidak membolehkan anaknya keluar rumah. Karena apabila mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak yang akan lebih terpuruk lagi.

Anak Difabel haruslah mendapatkan cinta, kasih sayang, ruang dan lingkungan serta Pendidikan yang memadai agar anak bisa berkembang karena perbedaan yang ada adalah bagian dari keberagaman.

Layanan Pendidikan Bagi Tunanetra

Juni 01, 2017
Layanan Pendidikan Bagi Tunanetra

Jenjang Pendidikan

Tunanetra sangat memerlukan layanan pendidikan khusus. Jenjang pendidikan bagi anak tunanetra terdiri dari:
  1. Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB)
  2. A. Program Kegiatan Belajar:
    • Program umum: pembentukan perilaku melalui pengembangan Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani.
    • Program khusus: Orientasi dan Mobilitas.
    B. Susunan Program Pengajaran:
    • Kegiatan belajar 3 jam perhari. Setiap jam pelajaran lamanya 30 menit.
    • Lama Pendidikan: berlangsung selama satu sampai tiga tahun
    • Usia: sekurang-kurangnya berusia 3 tahun
    • Rasio guru dan murid: 1 guru membimbing 5 peserta didik.
    • Sistem guru: (a) Guru kelas, kecuali untuk bidang pengembangan Orientasi dan Mobilitas. (b) Team teaching
  3. Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
  4. A. Kurikulum:
    • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajian Tangan dan Kesenian, pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
    • Program Khusus: Orientasi dan Mobilitas, dan Braille
    • Program Muatan Lokal antara lain: bahasa Daerah, bahasa Inggris, Kesenian Daerah atau lainnya yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Daerah setempat.
    B. Susunan Program Pengajaran:

    Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 30 sampai 42 jam pelajaran tiap minggu. Untuk kelas I dan II setiap jam pelajaran lamanya 30 menit, kelas III sampai dengan VI setiap jam pelajaran lamanya 40 menit.
    C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 6 tahun.
    D. Usia: sekurang-kurangnya berusia 6 tahun
    E. Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
    F. Sistem guru:
    (a) Guru kelas, kecuali untuk mata pelajaran Orientasi dan Mobilitas, pendidikan Agama, pendidikan jasmani dan Kesehatan. (b) Team teaching. (c) Mengembangkan program pendidkan individual bagi siswa tunanetra yang membutuhkan layanan tertentu.

  5. Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB)
  6. A. Kurikulum:
    • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, pendidikan Jasmani dan Kesehatann bahasa Inggris.
    • Program Khusus: Orientasi dan Mobilitas, dan Braille.
    • Program Muatan Lokal: bahasa Daerah, Kesenian Daerah atau lainnya yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Daerah setempat.
    • Program Pilihan: paket keterampilan Rekayasa, Pertanian, Usaha dan Perkantoran, Kerumahtanggaan, dan Kesenian.
    B. Susunan Program Pengajaran: Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran tiap minggu. Setiap jam pelajaran lamanya 45 menit. Alokasi waktu program umum, program khusus dan muatan lokal kurang lebih 48%, sedangkan alokasi waktu program pilihan kurang lebih 52%.
    C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 tahun.
    D. Siswa: telah tamat Sekolah Dasar Luar Biasa atau satuan pendidikan yang sederajat/setara.
    E. Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
    F. Sistem guru: Guru mata pelajaran
  7. Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB)
  8. A. Kurikulum:
    • Program Umum: pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, pendidikan Jasmani dan Kesehatan Bahasa Inggris.
    • Program Khusus: Braille
    • Program Pilihan: paket keterampilan Rekayasa, Pertanian, Usaha dan Perkantoran, Kerumahtanggaan, dan Kesenian.
    B. Susunan Program Pengajaran: Kegiatan belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran tiap minggu. Setiap jam pelajaran lamanya 45 menit. Alokasi waktu program umum kurang lebih 38%, sedangkan alokasi waktu program plihan kurang lebih 62%.
    C. Lama Pendidikan: berlangsung selama sekurang-kurangnya 3 tahun.
    D. Siswa: telah tamat Sekolah Menengah Pertama atau yang sederajat/setara. 5) Rasio guru dan murid: 1 guru mengajar maksimal 12 siswa.
    E. Sistem guru: Guru mata pelajaran

Klasifikasi Tunanetra

April 18, 2017

Info [K-moe]– Klasifikasi Tunanetra secara garis besar dibagi empat yaitu:

1. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan

Tunanetra
  1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.
  2. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil; mereka telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
  3. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja; mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh yang mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.
  4. Tunanetra pada usia dewasa; pada umumnya mereka yang dengan segala kesadaran mampu melakukan latihan-latihan penyesuaian diri.
  5. Tunanetra dalam usia lanjut; sebagian besar sudah sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri.
2. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan
  1. Tunanetra ringan (defective vision/low vision); yakni mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.
  2. Tunanetra setengah berat (partially sighted); yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal.
  3. Tunanetra berat (totally blind); yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat.
3. Berdasarkan pemeriksaan klinis
  1. Tunanetra yang memiliki ketajaman penglihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang penglihatan kurang dari 20 derajat.
  2. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 yang dapat lebih baik melalui perbaikan.
4. Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata
  1. Myopia; adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan jatuh di belakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas kalau objek didekatkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Myopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa negatif.
  2. Hyperopia; adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan jatuh di depan retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita Hyperopia digunakan kacamata koreksi dengan lensa positif.
  3. Astigmatisme; adalah penyimpangan atau penglihatan kabur yang disebabkan karena ketidakberesan pada kornea mata atau pada permukaan lain pada bola mata sehingga bayangan benda baik pada jarak dekat maupun jauh tidak terfokus jatuh pada retina. Untuk membantu proses penglihatan pada penderita astigmatisme digunakan kacamata koreksi dengan lensa silindris. 
REFERENSI
  1. Corn & Koenig. (1996). Foundation of Low Vision: Clinical and Functional Persfectives. New York: American Foundation for the Blind Press.
  2. Departemen Pendidikan Nasional. (…) Keputusan Mendikbud No. 002/U/1986. Jakarta: Depdiknas
  3. Departemen Pendidikan Nasional. (…) Keputusan Mendikbud No. 0491/U/1992. Jakarta: Depdiknas
  4. Departemen Pendidikan Nasional. (1991). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Depdiknas
  5. Departemen Pendidikan Nasional. (1994). Kurikulum Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Depdiknas
  6. Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Pedoman Pelayanan Pendidikan Terpadu bagi anak berkebutuhan Khusus dan Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdiknas 
  7. Heather Mason and Stephen Mc. Call. (1991). Visual Impairment. London: David Fulcon Publisher Ltd.

Karakteristik Ketunanetraan

April 06, 2017
Dampak ketunanetraan

Karakteristik Ketunanetraan

Anak tunanetra yang memiliki keterbatasan pengelihatan tidak mudah untuk bergerak dalam interaksi dengan lingkungannya, kesulitan dalam menemukan mainan dan teman-temannya, serta mengalami kesulitan untuk meniru orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang dikhawatirkan akan memberikan dampak.

A. Karakteristik Kognitif

Ketunanetraan secara langsung berpengaruh pada perkembangan dan belajar dalam hal yang berfariasi. Lowenfield menggambarkan dampak kebutaan dan lowvision terhadap perkembangan kognitif. Adapun identifikasi keterbatasan yang mendasar pada anak tunanetra ada dalam tiga area, antara lain :

  1. Tingkat dan keanekaragaman pengalaman
  2. Keterbatasan pengalaman anak tunanetra dikarenakan pengaruh pengalih fungsian organ-organ yang masih normal lainnya. Seorang anak tuna netra lebih mengandalkan indra peraba dan pendengaran untuk membantunya berinteraksi dengan lingkungan luar, walaupun demikian hal tersebut tentu saja tidak bekerja secara maksimal layaknya indra pengelihatan yang secara cepat dangan menyeluruh dalam memperoleh informasi, misalnya ukuran, warna dan hubungan ruang yang dapat dengan mudah diperoleh dengan indra penglihatan.

  3. Kemampuan untuk berpindah tempat

    Indera penglihatan yang normal memungkinkan individu untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tapi tuan netra mepunyai keterbatasan untuk melakukan gerak tersebut. Keterbatasan tersebut menghalangi mereka untuk memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh juga pada hubungan sosial lingkungan sekitar mereka. Dengan segala keterbatasan mereka, anak tunanetra harus belajar bagaimana berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan kemampuan orientasi dan mobilitas

  4. Interaksi dengan lingkungan

    Jika seorang yang normal berada pada suatu ruangan yang ramai, maka dengan cepat akan mengenali keadaan ruangan tersebut. Orang tunanetra tidak memiliki kontrol seperti itu. Bahkan dengan keterampilan mobilitas yang dimilikinya, gambaran tentang lingkungan masih tidak utuh

B. Karakteristik Akademik

Dampak ketunanetraan tidak hanya pada terhadap perkembangan kognitif, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademisnya, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Sebagai contoh, ketika seorang yang normal melakukan kegiatan membaca dan menulis mereka tidak perlu memperhatikan secara rinci bentuk huruf atau kata, tetapi bagi tunanetra hal tersebut tidak bisa dilakukan karena ada gangguan pada ketajaman pengelihatan. Kesulitan mereka dalam kegiatan membaca dan menulis biasanya sedikit mendapat pertolongan dengan mempergunakan berbagai alternatif media atau alat membaca dan menulis, sesuai dengan kebutuhan masing-masing 

  1. Karakteristik Sosial dan Emosional

    Perilaku sosial secara tipikal dikembangkan melalui observasi kebiasaan dan kejadian sosial serta menirunya. Perbaikan biasanya dilakukan melalui penggunaan yang berulang-ulang dan bila diperlukan meminta masukan dari orang lain yang berkompeten . Karena tunanetra mempunyai keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, siswa tunaneta sering mempunyai kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar. Oleh sebab itu siswa tunanetra harus mendapatkan pembelajaran yang langsung dan sistematis dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan benar, mempergunakan tekanan dan alunan suara dengan baik, mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi serta menggunakan alat bantu yang tepat.

  2. Karakteristik Perilaku

    Ketunanetraan itu sendiri tidak menimbulkan masalah atau penyimpangan perilaku pada diri anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Siswa tunanetra kadang-kadang sering kurang memperhatikan kebutuhannya sehari-harnya, sehingga ada kecenderungan orang lain untuk membantunya apabila hal ini terjadi maka siswa akan cenderung berlaku pasif.

Beberapa siswa tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Sebagai contoh mereka sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya menggoyang-goyangkan kepala dan badan, atau berputar-putar. Beberapa teori mengungkapkan bahwa anak tunanetra mengembangkan perilaku stereotip mereka akibat tidak ada rangsangan sensoris, terbatasnya aktifitas dan gerak dalam lingkungan, serta keterbatasan sosial. Biasanya para ahli mencoba mengurangi dan menghilangkan perilaku tersebut dengan membantu mereka memperbanyak aktifitas, atau dengan mempergunakan strategi perilaku tertentu, misalnya pemberian pujian atau alternatif pengajaran, perilaku yang positif dan sebagainya.

Faktor Penyebab Ketunanetraan

April 06, 2017
Faktor Penyebab Ketunanetraan

Info [K-moe]– Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menyandang ketunanetraan diantaranya :

Pre-natal

Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara lain:

  1. Keturunan

    Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit demi sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina. Gejala pertama biasanya sukar melihat di malam hari, diikuti dengan hilangnya penglihatan periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat yang tertinggal.

  2. Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan

    Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh: Gangguan waktu ibu hamil. Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan. Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang. Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri. Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.

Post-natal

Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:

  1. Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras.
  2. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada ahkirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan.
  3. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya:
    • Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin A.
    • Trachoma; yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis.
    • Catarac; yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih.
    • Glaucoma; yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat.
    • Diabetik Retinopathy; adalah gangguan pada retina yang disebabkan karena diabetis. Retina penuh dengan pembuluh-pembuluh darah dan dapat dipengaruhi oleh kerusakan sistem sirkulasi hingga merusak penglihatan.
    • Macular Degeneration; adalah kondisi umum yang agak baik, dimana daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk. Anak dengan retina degenerasi masih memiliki penglihatan perifer akan tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan.
    • Retinopathy of prematurity; biasanya anak yang mengalami ini karena lahirnya terlalu prematur.

      Pada saat lahir masih memiliki potensi penglihatan yang normal. Bayi yang dilahirkan prematur biasanya ditempatkan pada inkubator yang berisi oksigen dengan kadar tinggi, sehingga pada saat bayi dikeluarkan dari inkubator terjadi perubahan kadar oksigen yang dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah menjadi tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka pada jaringan mata. Peristiwa ini sering menimbulkan kerusakan pada selaput jala (retina) dan tunanetra total.

  4. Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll.

Yoo Ye Eun Seorang Pianis Tunanetra

April 05, 2017

Yoo Ye Eun adalah seorang anak perempuan tunanetra pemain piano berusia lima tahun yang belajar piano secara otodidak. Ia tidak pernah mempelajari piano secara formal tetapi bisa memainkan lagu hanya dengan mendengarnya sekali. Ia telah memainkan piano sejak usia tiga tahun setelah mendengar ibunya bernyanyi. Sejak itu, ia hanya belajar piano melalui komputer . Ia juga seorang anak angkat karena dia dibuang oleh orang tua angkatnya. Orang tua angkatnya pun tidak menyangka bakat yang dimiliki oleh Yoo Ye Eun, sampai akhirnya Yo Ye Eun diikutsertakan dalam sebuah acara pencarian bakat bertajuk Star King di sebuah televisi di Korea menobatkannya menjadi pemenang. Ia pun mendapatkan hadiah sebesar satu juta won atau setara dengan Rp 9,1 miliar. Yoo juga diberi julukan "Jenius Mozart berumur lima tahun". Dengan kemenangannya di ajang kontes Star King, ia kini dikenal di mana-mana. Rekamannya juga dikirimkan ke Pandora TV, sebuah situs video streaming yang memungkinkan aksinya bisa dilihat di seluruh dunia.

Kemahiran Yoo memang seperti bakat dari alam. Hal ini mengingatkan kita pada sosok Hee Ah Lee yang juga jago bermain piano, meski jari kedua tangannya hanya ada empat. Kedua sosok ini menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk tak berkarya.

Yoo sendiri menurut beberapa tulisan disebut sudah mulai bisa memainkan piano sejak usia tiga tahun. Saat itu, Park Jung Soon, ibu angkatnya sangat terkejut dengan permainan piano Yoo. Sebab, ia tak merasa pernah mengajari Yoo bermain piano.

Dalam salah satu aksinya, Yoo yang sejak kecil sudah ditinggalkan orangtua kandungnya mampu membuat penonton berlinang air mata. Saat itu ia membawakan lagu You Were Born to be Loved. Barangkali inilah tumpahan hati yang tertuang dalam sebuah dentingan piano dari seorang anak yang tak mengenal putus asa. Meski buta, ia tetap berkarya sehingga itulah yang mengundang keharuan semua yang melihatnya.

Orangtua angkat Yoo sendiri tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang luar biasa dari orang banyak. Kini, Yoo telah tampil di berbagai negara. Tawaran bantuan pun mengalir seperti bantuan untuk menyembuhkan mata Yoo. Sayangnya, hingga kini, operasi yang telah dilakukan belum berhasil. Sampai sekarang Yoo masih tidak dapat melihat.

Bagi anda yang mau nonton videonya silahkan disni..