Tampilkan postingan dengan label Sahabat Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahabat Keluarga. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak?

Oktober 13, 2017
Info [K-Moe] - Tips Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak
Info [K-Moe] - Tips Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak

Info [K-Moe] – Tentunya orang tua mendambakan memiliki anak yang menyenangkan, akrab, santun dalam berbicara, bergaul dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Sehingga bisa menyesuaikan diri dalam segala situasi, disukai orang, menghargai perbedaan, peka terhadap masalah sosial dan mampu mengurangi perilaku negatif seperti perundungan.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan sejak usia dini, karena dengan dengan pembiasaan sejak dini, Karakter bersahabat dapat terbentuk seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pembentukan karakter di usia dini akan berpengaruh pada pembentukan karakter di usia selanjutnya.

Lalu apa saja yang perlu ditanamkan kepada anak untuk menumbuhkan karakter bersahabat? ini dia tips dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga untuk membangun karakter bersahabat anak pada usia dini.

Berkomunikasi dengan Baik dan Santun

Mengajarkan anak untuk mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan sopan dan santun, melakukan kontak mata ketika berkomunikasi, serta membiasakan anak menggunakan kata-kata positif.

Selain itu, dapat juga dengan mengajarkan anak untuk mengungkapkan keinginannya, terbuka mengungkapkan perasaan, selalu menggunakan kalimat sederhana dan mudah dimengerti, menyapa ketika bertemu sambil tersenyum atau mengajarkan anak untuk menggunakan bahasa tubuh yang baik saat berkomunikasi.

Menjadi Pendengar yang Baik

Agar anak tumbuh menjadi pendengar yang baik, anak perlu diajarkan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Ajarkan juga anak untuk tidak memotong pembicaraan saat orang lain sedang berbicara.

Menghormati Orang Lain

Ajarkan anak untuk memberikan pujian kepada orang lain, menghargai perbedaan, tidak sombong, selalu mengucapkan kata tolong ketika membutuhkan bantuan, selalu menepati janji, meminta maaf bila berbuat kesalahan serta selalu meminta izin menggunakan barang orang lain dan mengucapkan terima kasih setelah menggunakan.

Dapat Bekerjasama

Ajarkan anak untuk dapat berteman dengan siapapun, tidak memaksakan kehendaknya, mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri serta mengajarkan anak perilaku gotong royong.

Perhatian terhadap Orang Lain

Ajarkan anak untuk menghibur orang lain yang sedang bersedih, membantu orang lain yang sedang kesulitan, berbagi dengan orang lain serta aktif dalam kegiatan sosial masyarakat.

Kelima hal tersebut akan berhasil tentu saja dengan membiasakan anak sejak dini, serta atas dukungan dari orang tua. Orang tua hendaknya menjadi contoh yang baik tentang perilaku bersahabat kepada anak. Orang tua juga diharapkan bisa konsisten terhadap apa yang diucapkan dengan perilakunya.

Cara lainnya dengan mendongeng. Bacakan dongeng yang bertema tentang persahabatan, seperti misalnya kisah persahabatan binatang. Saat membacakan dongeng, perhatikan waktu, vokal dan ekspresi wajah yang menarik bagi anak. Usai membacakan dongeng, ajak anak untuk mengambil kesimpulan perilaku yang boleh dan tidak boleh dicontoh.

Menumbuhkan karakter bersahabat kepada anak juga bisa lakukan dengan cara bermain, seperti misalnya bermain peran dalam mengajarkan perilaku menolong. Dari permainan tersebut, ajak anak untuk mengambil kesimpulan perilaku yang boleh dan tidak boleh dicontoh.

Hal tersebut dilakukan dengan pembiasan secara terus menerus. Buatlah kesepakatan atas perilaku yang boleh dan tidak boleh. Berikan apresiasi atau penghargaan atas perilaku bersahabat anak. Sebaliknya, berikan konsekuensi jika anak melakukan perilaku tidak bersahabat sesuai dengan kesepakatannya.

Kemdikbud.go.id

SLB Negeri B Garut : Membangun Jiwa Anak dengan Dukungan Orang Tua

Oktober 11, 2017
Nabil Ulhaq A'isy dan Orang tua
Nabil Ulhaq A'isy dan Orang tua

Nabil Dhiya Ulhaq A’isy (16) nampak rapih dengan seragam putih biru celana panjangnya. Gayanya cuek namun gerak-geriknya nampak gesit, cekatan, dan penuh inisiatif. Siswa kelas 9 SMP Luar Biasa Negeri B Kabupaten Garut itu terlahir dengan down syndrome.

Beruntung, ibunya, Popi Wargani pernah mempelajari gejala-gejala down syndrome, sehingga, walaupun sempat sedih dan stress, Popi dan suaminya, Hendri Hendarsah, segera mempelajari segala hal terkait down syndrome, terutama bagaimana memperlakukannya, memberikan pengajaran dan pendidikan, dan bagaimana melatihnya agar bisa hidup mandiri.

Saat usia Nabil mencapai 7 tahun, Popi mencari-cari sekolah luar biasa yang menurutnya baik, dalam arti kata, punya komitmen kuat untuk mengajar dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus sehingga saat lulus bisa mandiri, setidaknya untuk rutinitas keseharian. Popi pun akhirnya menemukan SLB Negeri B Kabupaten Garut.

“Saya melihat, SLB Negeri B ini punya komitmen kuat untuk memberi pelajaran dan pendidikan pada siswa-siswanya. Salah satu yang saya apresiasi dan menjadi dasar bagi saya untuk menentukan pilihan pada sekolah ini adalah kerjasama yang intensif antara pihak sekolah dan orang tua siswa, “tutur Popi saat ditemui beberapa waktu lalu di ruang tamu sekolah itu.

Mulyawati, Kepala Sekolah SLB Negeri B Kabupaten Garut menuturkan, sudah lama sekali sekolahnya menjalin kemitraan dengan orang tua siswa. Menurutnya, kerjasama dengan orang tua siswa di sekolah luar biasa atau sekolah buat anak-anak berkebutuhan khusus sebenarnya suatu keniscayaan. “Anak-anak berkebutuhan khusus kan bisa dikatakan tergantung pada orang lain, bahkan untuk tindak-tanduk yang sederhana sekalipun. Untuk itu orang tua harus berperan aktif, “katanya.

Peran aktif orang tua siswa, tambah Mulyawati, dimulai sejak anak didaftarkan. Diawali dengan digelarnya assessment test untuk menilai kemampuan calon siswa, lantas dilakukan dialog antara guru dengan orang tua siswa untuk lebih memahami profil calon siswa dan bagaimana perlakuannya secara tepat.

“ Hal itu mengingat, bahwa, meskipun ada dua orang yang memiliki keterbatasan yang sama, namun kadar atau tingkat keterbatasannya berbeda-beda. Hal itu akan membedakan perlakuan dari guru dan bagaimana menghadapinya, “ujarnya.

Dari hasil assessment test itulah segera dibentuk rombongan belajar (Rombel) yang masing-masing berisi maksimal 5 orang siswa dengan satu orang guru. Kecuali untuk siswa yang mengidap autis, dalam satu rombel hanya ada satu siswa, satu guru, dan satu guru pembantu.

Dari kelima siswa dalam satu rombel itu, masing-masing mempunyai kemampuan yang berbeda. “Keterbatasan yang sama, namun tingkatannya berbeda. Misalnya, sama-sama tuna rungu, namun ada yang sudah mampu merespons isyarat tangan dengan mudah, ada yang agak susah, dan ada pula yang harus belajar dari nol, “katanya.

Di SLB yang berlokasi di Jalan RSU No 62 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut itu sendiri ada sekitar 120 siswa mulai jenjang SD sampai SMA yang terdiri dari tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, dan autis.

Kembali ke Nabil, anak bungsu dari 3 bersaudara ini (Namun salah seorang kakaknya sudah meninggal), saat ini sudah bisa mandiri. Contohnya, seperti dikatakan Ibunya, Popi, bila pergi dan pulang sekolah, Nabil sudah berani naik ojek sendiri, tanpa dikawal ibunya. Nabil juga sudah mulai mengenal uang dan sedang belajar belanja sendiri.

“Ia sudah tahu, kalau uang segini, belanja ini, kembaliannya segini, ia sudah mulai berpikir, walaupun untuk berkomunikasi masih terbatas pada beberapa suku kata saja, “kata Popi.

Nabil juga sudah diajarkan cara membuka komputer dan mengetik. “Ia sudah bisa membedakan, mana file punya ayahnya, mana punya kakaknya dan mana punya dirinya, “tambah Popi.

Kuncinya, lanjut Popi, pertama, rajin berkomunikasi dan berdialog dengan guru di sekolah. Dalam pertemuan itu, dibahas perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Bila sudah teridentifikasi, orang tua dan guru sepakat memberikan perlakuan yang sama antara di sekolah dan di rumah.

Selain itu, kedua pihak juga sepakat untuk memberi stimulus secara terus menerus pada si anak agar kognitif, afektif, dan psikomotoriknya berkembang.

Yanuar Jatnika Kemdikbud.go.id

Pentingnya Orang Tua dan Guru Mengikuti Perkembangan Jaman

Mei 19, 2017

Info [K-moe] - Pada era digital sekarang ini, orang tua dan guru harus mengenali dan memahami apa yang saat ini berkembang di dunia anak-anak. Orang tua harus belajar apa yang diinginkan anak dalam belajar saat ini.

Menurut pengamat Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Itje Chodidjah, orang tua tidak harus meninggalkan gaya pendidikan lama yang terjadi di era mereka, tetapi penting juga memperhatikan perkembangan zaman dan ketertarikan anak pada kecanggihan sistem saat ini.

Salah satunya, penggunaan alat elektronik, cara berkomunikasi dan keterampilan anak menjadi hal yang harus diperhatikan orang tua. Pendidikan moral juga penting untuk diajarkan orang tua. Pelajaran tersebut, Itje mengatakan, tidak dapat dilakukan hanya setengah jalan.

"Orang tua harus tahu, harus memahami seperti penggunaan alat-alat elektronik bagaimana menggunakannya secara tepat, kemudian cara orang tua berkomunikasi, memberikan pendapat, karena cara yang dilakukan orang tua pasti ditiru. Terlebih pendidikan paling besar adalah moral dan pendidikan karakter yang asalnya dari rumah," tuturnya beberapa waktu lalu.

Selain orang tua, kata Itje, seorang guru juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman untuk menarik minat anak sekolah. Cara mendidik yang ketinggalan zaman akan membuat mereka bosan dan tidak memahami apa yang diajarkan.

"Makanya, tadi kelemahan yang pertama adalah pemerataan dan kualitas guru. Kualitas guru kita masih senjang belum merata, ada yang bagus tapi ada juga yang seadanya. Hal itu menyebabkan kualitas anak di satu daerah dengan daerah lainnya tidak sama," tuturnya.

Menurut Itje, seorang guru tidak boleh memiliki pengetahuan yang terbatas. Dia juga harus mengajar dengan cara modern dan meninggalkan sistem belajar yang kuno. Perkembangan informasi dan kemajuan teknologi harus diketahui oleh guru. "Saya rasa anak-anak mendengarkan hanya sungkan saja, karena dia takut, karena dia menghormati gurunya, tapi belum tentu dia sebenarnya belajar," ujarnya. Yanuar Jatnika

Sahabat Keluarga (Kemdikbud.go.id)

6 Langkah dari Montessori Agar Anak Gemar Belajar

Februari 03, 2017

Bagi anak-anak yang masih menjalani pendidikan di sekolah, kegiatan belajar itu berlangsung setiap hari. Tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Bila di sekolah, guru adalah pembimbingnya, sedang di rumah, yang berperan adalah orang tuanya.

Bagaimana agar proses pembelajaran di rumah bisa efektif dan membentuk anak-anak yang gemar belajar?

Tokoh pendidikan dunia, Maria Montessori, mengatakan, orang tua tetap harus mengupayakan lingkungan yang mendukung proses belajar anak optimal dan bisa menjadi kebiasaan hingga kelak mereka dewasa.

Montessori memberi tips, ada 6 langkah untuk menciptakan lingkungan rumah yang kondusif untuk proses belajar dan mengajar anak-anak yang bisa kita jadikan acuan.

Pertama: Jadikan membaca sebagai kebiasaan

Berbagai penelitian menunjukkan, anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca akan lebih sukses secara akademis. Karena itu, biasakan membacakan buku untuk anak-anak di rumah. Jadikan bagian dari aktivitas sehari-hari keluarga, walau hanya 5-10 menit sehari. Kemudian, lakukan tugas membaca bergantian pada seluruh anggota keluarga, termasuk si kecil. Walau masih terbata-bata atau kadang mungkin mengarang bebas, biarkan. Jangan lupa, orang tua tetap rutin membaca buku untuk keperluan pribadi. Anak-anak tentu akan melihat dan mencontoh.

Kedua: Minimalisasi kekacauan

Menyediakan terlalu banyak mainan atau buku untuk anak sekaligus hanya akan menimbulkan kekacauan. Lebih baik lakukan rotasi item terpilih setiap beberapa minggu sekali, sementara yang lainnya dijauhkan sementara dari pandangan anak. Anak-anak akan lebih optimal menyerap pengetahuan dalam situasi yang minim kekacauan dan terorganisir. Latih anak fokus pada satu hal saja pada satu waktu.

Ketiga: Ajarkan bersih-bersih

Ajarkan dan biasakan anak-anak menerima tanggung jawab seperti merapikan mainan atau piring dan gelas bekas makan untuk anak usia dini yang lebih besar. Tentu saja, orang tua harus lebih dulu memfasilitasi. Misal, dengan menyediakan kotak berukuran besar agar anak mudah memasukkan semua mainan ke dalamnya. Dan tidak sebatas itu, orang tua juga bisa mengembangkan materi pelajaran. Jangan ragu menjelaskan kepada anak tentang cara meletakkan barang yang benar, membedakan barang pecah belah dan bukan, dan lain sebagainya.

Keempat: Utamakan perabotan ramah anak

Miliki sebanyak mungkin ruang di dalam rumah yang bersahabat dengan anak. Singkirkan sementara waktu benda-benda mahal, berbahaya, atau yang mudah rusak dari jangkauan anak yang sedang dalam masa menjelajah. Sebaliknya, sediakan sebanyak mungkin fasilitas rumah tangga berukuran kecil, seperti keran yang pendek, meja dan kursi makan yang kecil, dan lain sebagainya. Cara ini membuat anak lebih cepat mandiri.

Kelima: Izinkan anak-anak mencoba

Anak-anak dengan rasa ingin tahu tinggi selalu pengin ikut-ikutan. Ibu mencuci piring, anak minta mencoba. Pun demikian ketika ayah mengepel lantai. Orang tua jangan serta merta melarang. Beri kesempatan dengan cara mengerjakannya bersama atau suruhlah mereka melakukan bagian yang lebih mudah. Dengan bertambahnya keahlian, walau itu sekadar membersihkan meja kotor, rasa percaya diri anak akan tumbuh.

Keenam: Orang tua jangan berhenti belajar

Tentu saja, orang tua pun tidak boleh berhenti belajar. Terus perbanyak dan perbaharui ilmu pengetahuan, tentang cara mendidik anak dan tentang apapun. Semakin banyak yang Anda ketahui, semakin bagus. Menjelajah internet, menghadiri seminar, bertanya kepada mereka yang kompeten, dan lain sebagainya, akan membantu orang tua mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang tahap perkembangan anak.

Sahabat Keluarga (Yanuar Jatnika)

Kelemahan Metode Mendidik Anak dengan Ancaman

Januari 06, 2017

Salah satu masalah yang seringkali dikeluhkan banyak orang tua selama ini terhadap perilaku anak adalah anak tidak menuruti perintah orang tua.

Untuk mengimbangi tanggapan anak, orang tua pun mengerahkan jurus andalannya: memerintah dengan ancaman. Misal, mengancam akan menghapus uang jajan, atau tak akan mengajak anak berlibur di akhir pekan nanti, atau menakut-nakuti si anak dengan menghadirkan figur dokter, polisi, atau hantu.

Pertanyaan yang muncul, apakah setiap kali anak-anak tidak mengindahkan kata-kata orang tua, mereka lantas diancam atau ditakut-takuti? Sebagian ada yang menjawab ya, namun sebagian ada pula yang mengatakan, tidak seharusnya melakukan hal itu.

Jawaban yang timbul tergantung dari seberapa luas wawasan dan pengetahuan orang tua seputar persoalan mendidik anak. Jika orang tua hanya mengandalkan warisan pengalaman yang diturunkan orang tua sebelumnya, maka jawabannya biasanya adalah yang pertama. Yakni, tidak mengapa mengancam atau menakut-nakuti anak demi “kebaikan mereka”.

Yang terjadi sebenarnya bukan demi kebaikan mereka, melainkan demi kenyamanan orang tua. Apa sebabnya? Karena ancaman membuat posisi orang tua di atas angin, memegang kuasa, dan mengendalikan situasi sesuai dengan keinginan mereka.

Hasil yang diperoleh pun bisa segera kelihatan, anak segera mengikuti keinginan orang tua tanpa butuh waktu lama. Orang tua tampaknya berhasil dengan cara seperti ini. Karena dinilai berhasil, metode ini pun cenderung untuk diulang kembali pada kesempatan berikutnya. Namun di balik keberhasilan yang tampak, sejatinya cara ini mengandung potensi negatif. Mari kita lihat.

Metode ancaman memiliki kelemahan, di antaranya, pertama, anak tidak terbiasa untuk diajak berpikir kritis. Karena orang tua menggunakan cara jalan pintas (short cut) untuk mencapai hasil yang diinginkan, anak hanya mempunyai dua pilihan, menurut (ia akan aman) atau tidak menurut (ia akan tidak aman). Tanpa proses berpikir kritis yang cukup, anak tentu saja akan memilih menurut.

Kelemahan kedua, ancaman akan membuat jiwa anak kerdil dan cenderung penakut. Semua serba mengkhawatirkan baginya, karena ia senantiasa dihadapkan hanya pada dua pilihan. Yang satu menguntungkan, dan yang lainnya merugikan. Anak kemudian terbiasa berpikir pragmatis. Lagi-lagi ia tidak dilatih untuk menganalisis dan bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya.

Kelemahan ketiga, orang tua memiliki keterbatasan dalam mengancam anak. Misal, ketika masih usia lima tahun, ia mungkin saja sangat takut terhadap polisi, berkat ancaman yang sehari-hari ia dapatkan. Namun seiring berjalannya waktu dan usianya yang juga makin bertambah, ia mendapat pengetahuan yang berbeda tentang sisi-sisi baik seorang polisi. Sehingga ancaman dengan menggunakan figur tersebut tidak lagi manjur untuk diterapkan. Begitupun dengan jenis-jenis ancaman lainnya.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya terus berusaha mencari cara-cara yang kreatif dalam mengiringi pertumbuhan anak. Bukan hanya mengandalkan warisan pengetahuan sebelumnya yang cenderung mengandung mitos dan unsur-unsur negatif dalam membesarkan anak, karena anak pun mempunyai akal dan hati yang seharusnya ditumbuhsuburkan dengan metode mendidik yang benar. (Mauliah Mulkin, pemerhati pendidikan)

Sahabat Keluarga