Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Mengatasi Anak Terlambat Bicara

Oktober 18, 2017
Mengatasi Anak Terlambat Bicara
Mengatasi Anak Terlambat Bicara

Info [K-Moe] - Pada umumnya anak dengan usia 1,5 tahun mampu mengucapkan minimal 5 kata secara konsisten seperti memanggil mama, papa, ini, itu, apa, nggak. Ketika usia anak memasuki usia 2 tahun umumnya sudah dapat merangkai kata sederhana, seperi mama minum.

Bagaimana dengan anak yang usianya sudah mencapai 2 atau 3 tahun tapi belum juga bisa berbicara dengan lancar atau hanya bisa mengucapkan potongan kata saja, maka dapat dikatakan bahwa anak mengalami keterlambatan bicara.

Anak yang mengalami keterlambatan bicara sebenarnya memiliki sosial-emosional dan perkembangan intelegensi yang normal seperti anak lainnya. Masalah anak terlambat bicara dialami 5-10 persen anak-anak usia prasekolah dan cenderung lebih sering dialami anak laki-laki ketimbang perempuan.

Faktor-faktor penyebab keterlambaan bicara

Keterlambatan bicara yang dialami pada anak bisa disebabkan berbagai faktor, antara lain:
  1. Mengalami hambatan pendengaran
  2. Bila anak mengalami kesulitan dalam pendengaran, secara otomatis menyebabkan anak kesulitan meniru, memahami, dan menggunakan bahasa. Masalah pendengaran pada anak biasanya disebabkan adanya infeksi telinga.
  3. Hambatan perkembangan otak
  4. Adanya gangguan pada daerah oral-motor di otak mengakibatkan ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang berperan untuk menghasilkan bicara. Sehingga kondisi ini dapat menyebabkan anak kesulitan menggunakan bibir, lidah, dan rahang untuk menghasilkan bunyi.
  5. Adanya masalah keturunan
  6. Keterlambatan bicara juga bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Meski belum ada penelitian yang bisa membuktikan kebenarannya, tapi biasanya anak yang terlambat bicara ternyata memiliki riwayat keluarga yang mengalami gangguan yang sama.
  7. Minimnya komunikasi
  8. Interaksi dan komunikasi antara orangtua dengan anak bisa menstimulasi anak untuk memperbanyak kosa katanya. Sayangnya, beberapa orangtua tidak menyadari jika cara berkomunikasi mereka berpengaruh terhadap perkembangan anak.
  9. Faktor televisi
  10. Anak yang sering menonton televisi akan menjadi pendengar yang pasif, anak hanya menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Menonton televisi juga bisa membuat anak menjadi traumatis karena menyaksikan tayangan yang berisi adegan perkelahian, kekerasan, dan seksual.

Cara Mengatasi

Orang tua diharuskan peka terhadap perkembangan anak. Orangtua harus menyadari apabila terdapat gejala-gejala keterlambatan bicara pada anak, serta melakukan hal berikut ini:
  1. Konsultasikan anak ke dokter atau psikolog tentang tumbuh kembang anak, bicarakan pada para ahli tentang tumbuh kembang anak dan kemampuan apa saja yang sudah bisa dikuasainya.
  2. Berikan anak kesempatan untuk berinteraksi dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Kegiatan ini bisa memotivasi anak untuk belajar bicara karena bermain dengan anak-anak lainnya membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.
  3. Ibu bisa menstimulasi anak dengan mengajaknya berkomunikasi meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Ibu bisa mengajak anak untuk membacakan dongeng dan bernyanyi.
  4. Mengajarkan kata kepada anak dengan pengucapan yang jelas. Usahakan anak melihat gerakan bibir Anda ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Misalnya, susu bukan cucu, minum bukan mik atu num, makan bukan maem atau mamam.

Dokter Sehat

Bagaimana Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak?

Oktober 13, 2017
Info [K-Moe] - Tips Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak
Info [K-Moe] - Tips Menumbuhkan Karakter Bersahabat Pada Anak

Info [K-Moe] – Tentunya orang tua mendambakan memiliki anak yang menyenangkan, akrab, santun dalam berbicara, bergaul dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Sehingga bisa menyesuaikan diri dalam segala situasi, disukai orang, menghargai perbedaan, peka terhadap masalah sosial dan mampu mengurangi perilaku negatif seperti perundungan.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan sejak usia dini, karena dengan dengan pembiasaan sejak dini, Karakter bersahabat dapat terbentuk seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pembentukan karakter di usia dini akan berpengaruh pada pembentukan karakter di usia selanjutnya.

Lalu apa saja yang perlu ditanamkan kepada anak untuk menumbuhkan karakter bersahabat? ini dia tips dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga untuk membangun karakter bersahabat anak pada usia dini.

Berkomunikasi dengan Baik dan Santun

Mengajarkan anak untuk mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan sopan dan santun, melakukan kontak mata ketika berkomunikasi, serta membiasakan anak menggunakan kata-kata positif.

Selain itu, dapat juga dengan mengajarkan anak untuk mengungkapkan keinginannya, terbuka mengungkapkan perasaan, selalu menggunakan kalimat sederhana dan mudah dimengerti, menyapa ketika bertemu sambil tersenyum atau mengajarkan anak untuk menggunakan bahasa tubuh yang baik saat berkomunikasi.

Menjadi Pendengar yang Baik

Agar anak tumbuh menjadi pendengar yang baik, anak perlu diajarkan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Ajarkan juga anak untuk tidak memotong pembicaraan saat orang lain sedang berbicara.

Menghormati Orang Lain

Ajarkan anak untuk memberikan pujian kepada orang lain, menghargai perbedaan, tidak sombong, selalu mengucapkan kata tolong ketika membutuhkan bantuan, selalu menepati janji, meminta maaf bila berbuat kesalahan serta selalu meminta izin menggunakan barang orang lain dan mengucapkan terima kasih setelah menggunakan.

Dapat Bekerjasama

Ajarkan anak untuk dapat berteman dengan siapapun, tidak memaksakan kehendaknya, mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri serta mengajarkan anak perilaku gotong royong.

Perhatian terhadap Orang Lain

Ajarkan anak untuk menghibur orang lain yang sedang bersedih, membantu orang lain yang sedang kesulitan, berbagi dengan orang lain serta aktif dalam kegiatan sosial masyarakat.

Kelima hal tersebut akan berhasil tentu saja dengan membiasakan anak sejak dini, serta atas dukungan dari orang tua. Orang tua hendaknya menjadi contoh yang baik tentang perilaku bersahabat kepada anak. Orang tua juga diharapkan bisa konsisten terhadap apa yang diucapkan dengan perilakunya.

Cara lainnya dengan mendongeng. Bacakan dongeng yang bertema tentang persahabatan, seperti misalnya kisah persahabatan binatang. Saat membacakan dongeng, perhatikan waktu, vokal dan ekspresi wajah yang menarik bagi anak. Usai membacakan dongeng, ajak anak untuk mengambil kesimpulan perilaku yang boleh dan tidak boleh dicontoh.

Menumbuhkan karakter bersahabat kepada anak juga bisa lakukan dengan cara bermain, seperti misalnya bermain peran dalam mengajarkan perilaku menolong. Dari permainan tersebut, ajak anak untuk mengambil kesimpulan perilaku yang boleh dan tidak boleh dicontoh.

Hal tersebut dilakukan dengan pembiasan secara terus menerus. Buatlah kesepakatan atas perilaku yang boleh dan tidak boleh. Berikan apresiasi atau penghargaan atas perilaku bersahabat anak. Sebaliknya, berikan konsekuensi jika anak melakukan perilaku tidak bersahabat sesuai dengan kesepakatannya.

Kemdikbud.go.id